Ganggu Kegiatan Sekolah, Tumpukan Limbah Medis di SLBN 2 Mataram Dibersihkan

57
Pembersihan limbah medis mulai dilakukan di SLB Negeri 2 Cakranegara. (Inside Lombok/ist)

Mataram (Inside Lombok) – Limbah medis yang ada di SLBN 2 Mataram sangat mengganggu kegiatan belajar mengajar peserta didik. Penanganan limbah medis di sekolah tersebut merupakan kewenangan Pemprov NTB. Meskipun demikian, DPRD Kota Mataram mengharapkan agar bisa segera dibersihkan.

Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Mataram, Nyayu Ernawati Rabu (29/12) mengatakan, pekan yang lalu sudah melakukan kunjungan ke lokasi tersebut. Limbah medis yang ada sangat mengganggu karena banyaknya sampah yang berbahaya.

Dari kunjungan yang dilakukan, banyak menemukan jarum suntik dan kebutuhan untuk pelayanan medis lainnya. “Kita dapat informasi dari masyarakat kalau ada limbah medis yang sangat membahayakan anak-anak kita. Itu kewenangan provinsi untuk SLB, tapi saya minta tolong agar segera dibersihkan,” katanya.

Aktivis perlindungan anak tersebut menegaskan, kunjungan yang dilakukan karena berada di wilayah Kota Mataram. Sehingga Komisi IV DPRD Kota Mataram memberikan perhatian khusus terhadap pembuangan limbah medis yang dilakukan di halaman sekolah. Padahal seharusnya, limbah medis memiliki penanganan khusus karena sangat berbahaya.

“Ada jarum suntik, cairan pembasmi nyamuk yang sudah kadaluarsa, kita juga temukan kondom. Kan tempat pembuangan limbah medis harus khusus. Kita saja kesana nggak tahan baunya,” tegasnya

Diharapkan, pembersihan limbah medis tersebut bisa selesai dilakukan sebelum kegiatan belajar mengajar aktif kembali. Terlebih lagi anak -anak yang mengenyam pendidikan di sekolah tersebut merupakan anak-anak yang berkebutuhan khusus.

“Seharusnya kita memberikan perlakukan khusus. Namanya juga anak berkebutuhan khusus. Lebih bagus kepada anak-anak ini harus berikan perhatian dan lainnya. Tapi justru kok begini. Saya takutnya mereka mainin nanti kan,” keluhnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, Aidy Furqon mengatakan menumpuknya limbah medis di lokasi tersebut karena sebelumnya menjadi tempat pelayanan kesehatan. Saat ini limbah medis tersebut sudah ditangani. Namun dia mengaku belum mengetahui secara pasti apakah sudah selesai atau tidak.

“Saya dapat info dari Dinas Kesehatan sudah dilakukan. Bahkan sudah selesai. Tapi saya belum cek. Itu kan dulu bekas rumah sakit mata dan kita diberikan izin oleh pemda untuk mendirikan SLB. Karena SLB untuk zona Mataram timur belum ada,” katanya saat dikonfirmasi, Kamis (30/12) di Mataram.

Dia menambahkan akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu, apakah sudah selesai dibersihkan atau tidak. Karena jika semua limbah medis yang sudah sudah bersih, maka semua peserta didik di SLB bisa segera dipindahkan ke lokasi tersebut.

“Saya akan cek dulu besok. Kalau Januari sudah beres baru boleh pindah. Kalau ternyata belum maka harus bertahap dulu. Karena Gedung sudah siap,” terangnya.

Untuk saat ini, lanjut Aidy, siswa yang menderita autis belum bisa dipindahkan ke lokasi yang baru. Hal ini dikhawatirkan akan bermain ke limbah tersebut dan sulit untuk diawasi. “Takutnya kita tidak bisa awasi. Makanya kita pindahkan secara bertahap,” pungkasnya. (azm)