Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Lobar Meningkat

Ilustrasi kekerasan pada anak. (Image Source: Solopos.com)

Lombok Barat (Inside Lombok) – Jumlah kasus kekerasan fisik dan seksual terhadap anak di Lombok Barat (Lobar) meningkat jika dibanding dengan tahun lalu. Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Lobar mencatat hingga November ada 32 kasus yang ditangani.

“Kekerasan terhadap anak mengalami kenaikan, begitu pun perkara yang pelakunya juga anak, itu angkanya naik. Sementara kekerasan terhadap perempuan itu menurun,” ungkap KBO Reskrim Polres Lobar, Ipda Dina Rizkiana saat dikonfirmasi, Rabu (07/12/2022).

Ia menyebut, kasus kekerasan yang banyak menimpa anak-anak di Lobar didominasi oleh kekerasan fisik dengan catatan 15 kasus, disusul kekerasan seksual berupa pencabulan 3 kasus, dan 4 kasus lainnya yang melibatkan anak.

Kecamatan Kediri dan Kuripan menjadi wilayah penyumbang kasus paling banyak. Dari kasus yang ditangani unit PPA tersebut, ia menurutkan di beberapa kasus ada juga yang korban dan pelakunya mendapatkan pendampingan psikolog untuk mengetahui kondisi psikologis mereka.

“Tapi tidak hanya kasus kekerasan dengan korban anak saja yang meningkat. Namun kasus yang pelakunya anak juga meningkat,” ungkap dia.

Dari data yang dicatat pihaknya, ada 6 kasus kekerasan fisik yang dilakukan oleh pelaku yang masih anak-anak. Kemudian ada 2 kasus persetubuhan, serta 6 kasus lainnya. Dengan daerah yang paling banyak menyumbang kasus adalah kecamatan Kediri. Sementara itu, data kekerasan terhadap perempuan diakui Dina mengalami penurunan jika dibanding tahun lalu.

“Kekerasan fisik terhadap perempuan sampai November ini terlapor 19 kasus. Kalau kekerasan seksual itu ada 4 kasus dan 6 kasus lainnya. Yang lokasi paling banyak kasus di kecamatan Sekotong dan Kuripan,” bebernya.

Untuk mengantisipasi dan mencegah makin banyaknya kasus kekerasan yang menimpa anak dan perempuan, pihaknya kian intens berkoordinasi dengan dinas terkait dan juga para bhabinkamtibmas di setiap wilayah yang menjadi TKP.

Bahkan, melalui beberapa kegiatan sosialisasi tentang KDRT, kekerasan terhadap anak, pencegahan pernikahan usia dini di beberapa event yang dijadikan sebagai salah satu upaya pencegahan oleh pihaknya.

“Kebanyakan sebelum masuk menjadi laporan di kepolisian, dari bawah sudah mencoba untuk mencari jalan tengah antara korban dan pelaku oleh para tokoh masyarakat disana,” pungkasnya. (yud)