Kebon Kongok dan NTB Zero Waste: Manusia di Persimpangan Masalah dan Solusi

100

Reduce, reuse, recycle, maggot centre, biopori, adalah istilah-istilah setil yang saya mampu ingat ketika membaca artikel di Inside Lombok berjudul “Per 1 Juli, Sampah Belum Terpilih Dilarang Masuk TPA Kebon Kongok”. Jari jemari ini lalu bersafari mengunjungi situs web Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi NTB. Di sini, saya menemukan banyak sekali informasi penting yang luput dari pengetahuan saya sebelumnya.

DLHK NTB, sebagai sebuah instansi garda terdepan dalam menyukseskan program NTB Zero Waste, telah melakukan riset optimal dan uji coba terhadap berbagai komponen program mereka, terutama penanggulangan masalah sampah domestik melalui pemanfaatan lubang biopori. Lubang biopori merupakan lubang berbentuk silinder (tabung)—hasil galian tanah—dengan kedalaman 50 s.d. 100 cm. Masih dari situs web DLHK, saya kemudian terpaku pada sebuah kutipan: “Yang berasal dari tanah harus kembali ke tanah.”

Secara tersirat, kutipan di atas merepresentasikan data yang DLHK himpun pada 2018, yakni 62% dari komposisi sampah di TPA Kebon Kongok adalah sampah organik—yang sebagian besarnya berasal dari dapur kita. Jika tak dikelola dengan tepat, sampah-sampah organik akan tetap menjadi masalah.

tulisan

Sumber: Inside Lombok

Lantas, kita dan DLHK bersepakat mengatakan bahwa sistem kumpul-angkut-buang tak serta merta menyelesaikan masalah, malah menimbulkan masalah baru. Layaknya sebuah solusi yang pada kemudian hari niscaya akan menjadi masalah baru—ini hanya masalah waktu, progam NTB Zero Waste pun tak luput dari kemungkinan: ia akan menjadi masalah baru di kemudian hari. Oleh karenanya, alih-alih bergantung kepada kebijakan pemerintah, ada baiknya manusia menjadi solusi untuk dirinya sendiri.

Hanya saja, apakah istilah-istilah setil nan fancy seperti reduce, reuse, recycle, dan biopori dapat dimengerti dan diaplikasikan semua kalangan? Jangan bayangkan bahwa istilah “sampah rumah tangga” ialah murni yang hanya dihasilkan di rumah dan hasil perbuatan ibu rumah tangga saja. Kita semua adalah penghasil sampah; di rumah, di kantor, di pasar, bahkan di simpang lampu merah BI-Islamic Centre. Tak dapat dipungkiri bahwa lebih dari setengah gunungan sampah Kebon Kongok merupakan hasil perbuatan kolektif kita semua yang jika dirunut berasal dari bahan-bahan baku yang tersaji di piring kita.

Bagaimana perjalanan sampah-sampah kita dari rumah ke Kebon Kongok? Mari kita ikuti anekdot dari sebuah keluarga—ayah, ibu, dan anak. Sang Ayah bekerja di sebuah kantor di Mataram, dan sang Ibu adalah seorang IRT; anak mereka bersekolah di salah satu sekolah ternama di Mataram pula. Mereka tinggal di sebuah perumahan di Kecamatan Labuapi, sangat dekat dengan TPA Kebon Kongok. Saking dekatnya, ketika hujan dan angin semriwing akan terciumlah aroma pembakaran sampah di Gunung Kongok sana, bercampur dengan bau membusuk dari sampah-sampah daun dan sayur. Semua tercium dari kejauhan!

Anekdot 1

Sang Ibu pandai memilah sampah dan ia mengerti perihal istilah reduce, reuse, recycle (3R). Ia membagi sampahnya menjadi sampah organik dan anorganik. Sampah organik ditanamnya di halaman rumah—menjadi humus bagi tanaman-tanaman hiasnya. Namun, nasib sampah anorganik rumah itu tak semulus sampah organiknya karena mesti menunggu petugas penjemput sampah—wilayah perumahan—yang hanya datang dua kali seminggu.

Anekdot 2

Karena letaknya yang cukup berdekatan, sang ayah dengan tujuan kantor berangkat bersama si anak yang tujuannya ke sekolah. Sebelum berangkat, sang ibu meminta, “Pak titip kantong sampah, buangin di truk sampah di Pagesangan.” Sayangnya, begitu sampai di lokasi, truk sampah sudah penuh. Ayah lalu berputar-putar ke berbagai titik, tapi nihil. Jam kantor dan jam masuk sekolah kian mendekat, hampir saja Ayah berniat membuang sampah di dekat semak-semak yang sepi dari pandangan orang. Namun ternyata ada tulisan “Hanya anjing yang buang sampah di sini”. Ayah lantas mengurungkan niatnya. Ia tak mau menjelma menjadi siluman anjing. Maka, mereka membawa pulang kembali plastik sampahnya.

Anekdot 3

Di kantor, sang Ayah rapat dengan timnya. Ada konsumsi kotakan berisi berbagai macam jajan—yang sebagian Ayah tak suka. Ia memakan kue-kue kesukaannya, dan membiarkan kue yang tak disukainya di dalam kotak jajan, bersama bungkus plastik bekas kuenya dan plastik gelas air mineral. Petugas sampah di kantornya lalu menyatukan sampah-sampah kotak itu ke dalam bak sampah besar.

Seluruh sampah-sampah di atas akan berakhir di TPA Kebon Kongok. Bayangkan jika sang Ayah di atas tidak mencampur baur sampah kotaknya—memilah sampah plastik bungkusan kuenya, menukar kue (yang akan ia buang) dengan kue milik temannya; barangkali selera kue masing-masing berbeda. Mungkin tindakan kecil itu akan mengurangi jumlah plastik-plastik dan sampah non plastik; satu di antara puluhan ribu sampah jajan kotak yang berasal dari konsumsi rapat di instansi-instansi di Mataram dan Lombok Barat.

Secara kontras, dalam kehidupan nyata, saya mengenal beberapa inaq-inaq di desa saya yang dengan cerdas memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Sampah-sampah dapur mereka tanam langsung di bawah pohon-pohon di halaman rumah mereka. “Aden manis buaqn, biar manis buahnya,” kata mereka. Pun saya pernah mendengar ibu lain berkata, “Ak talet mbas kedondong yaq, wahk bedoe laeq laguq mate,” atau “Bibit kedondong ini akan saya tanam sebagai pengganti pohon kedondong saya yang mati.”

Dari semuanya di atas, dapat kita renungi bahwa selain teknologi-teknologi terbarukan berbahasa Inggris tersebut, DLHK dan kita semua membutuhkan kesadaran kolektif: kita adalah sumber masalah.

Namun, di waktu yang sama, kita jugalah sumber solusinya. Perlu digaris bawahi: growth mindset dan kesadaran kolektif itu tak serta merta berkorelasi positif dengan tingkat pendidikan seseorang. Siapa pun bisa mengawali dan mengajak orang lain di sekitarnya untuk bergerak bersama, sebab masalah sampah perlu pelibatan hati nurani.

 

penulisToni Ariwijaya, seorang pengajar di Universitas Islam Al-Azhar dan masyarakat asli Lombok Tengah. Sehari-hari, setelah mengajar, Toni bertani dan berkebun sembari menjadi social observer. Pernah menempuh pendidikan di negeri seberang—tepat di bawah peta Pulau Lombok, dan pernah bermain-main bersama kangguru di sana.