Korban Gempa 2018 di Loteng Terpaksa Bertahan di Tempat Pengungsian, Tunggu Realisasi Bantuan Pemerintah

126
Salah satu warga yang ada di tempat pengungsian di Desa Sintung, Jumat (27/5/2022) (Inside Lombok/Fahri)

Lombok Tengah (Inside Lombok) – Gempa bumi Lombok sudah berlalu empat tahun lamanya. Namun sejumlah warga yang terdampak bencana alam tersebut hingga kini masih tinggal di tempat pengungsian. Hal tersebut dialami beberapa warga di Desa Sintung, Pringgarata, Lombok Tengah (Loteng) yang terpaksa bertahan di pengungsian lantaran tidak kunjung mendapat bantuan.

Kepala Desa Sintung, Herman mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk membantu meringankan masyarakat yang belum tersentuh bantuan rumah tahan gempa (RTG). Termasuk belasan warganya yang masih tinggal di bawah terpal.

“Sekarang ini kurang lebih ada 15 kepala keluarga (KK) yang belum mendapat perhatian,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (27/5). Pihaknya berharap segera ada perhatian khusus terkait persoalan tersebut, agar sesegera mungkin masyarakat Desa Sintung yang terdampak gempa 2018 dan masih bertahan di pengungsian bisa mendapatkan bantuan perumahan.

Diterangkan, sebagian besar warga yang belum mendapat bantuan adalah mereka yang berasal dari Dusun Selakan, Dasan Telage, Pidade, dan Sintung Timur. Pihaknya juga meminta kepada masyarakat untuk bersabar, karena pihaknya sebagai pelayan masyarakat akan terus mencarikan solusi untuk persoalan tersebut.

“Kami tetap berupaya untuk mencarikan bantuan perumahan dari dinas terkait baik lewat kabupaten maupun provinsi,” tutupnya. Hal ini penting, mengingat warga tinggal di pengungsian adalah mereka yang belum mendapatkan bantuan RTG dari pemerintah.

Berdasarkan pantauan Inside Lombok di lapangan, tempat pengungsian warga ada yang terbuat dari seng bekas dan ada juga yang tinggal di bawah terpal yang kondisinya sudah lapuk. Atapnya juga bocor.

Salah satu warga, Halimah, Jumat (27/5/2022) menuturkan dirinya masih tinggal di tempat pengungsian selama empat tahunan lantaran belum memiliki uang yang cukup untuk memperbaiki rumahnya yang rusak akibat gempa.

“Saya tidak berani tinggal di rumah saya karena di pecah-pecah. Rusak. Belum pernah dapat bantuan perbaikan, saya belum ada uang untuk perbaiki sendiri,” katanya. Dari pemerintah, dalam hal ini Dinas Sosial, disebutnya pernah datang memberikan bantuan ternak dan sempat menyatakan akan memperbaiki rumahnya yang rusak. Namun sampai sekarang belum ada realisasi.

Halimah berharap pemerintah membantu untuk membangun rumahnya yang rusak. Saat ini, ia bersama suami dan satu anaknya tinggal di gubuk pengungsian yang dibuat dari seng bekas.

Tak jauh berbeda, Rohana yang juga masih bertahan di pengungsian mengharapkan segera ada bantuan dari pemerintah untuk memperbaiki rumahnya. Terutama agar seperti warga terdampak gempa lain yang sudah mendapatkan bantuan.

“Rumah saya itu kondisinya pecah, tidak karuan. Semua datang melihat dan heran melihat kondisi rumah saya itu. Tapi cuma begitu. Kita tidak kunjung dapat bantuan,” katanya.Pemerintah desa juga disebutnya sudah mengetahui kondisi rumahnya tersebut. Saat ini dia tinggal di tempat pengungsian bersama suami dan ketiga anaknya.

Dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki Halimah dan Rohana, keduanya berharap bisa mendapatkan bantuan untuk membangun rumah yang rusak karena gempa 2018. Terlebih sejak mengungsi sekitar 4 tahun lamanya, mereka dan juga warga lainnya yang belum menerima bantuan membutuhkan tempat tinggal yang lebih representatif ketimbang hunian sementara mereka yang kondisinya jauh dari layak untuk ditinggali. (fhr)