Nasib Siswa “Korban” By Pass, Diejek Tak Punya Sekolah Hingga Belajar di Emperan Rumah

Lahan kosong yang disiapkan sebagai relokasi pembangunan SDN Tonjer dan SMPN 15 Pujut, Selasa (13/7/2021). (Inside Lombok/istimewa )

Lombok Tengah (Inside Lombok)- Para siswa SDN Tonjer di desa Sukadana kecamatan Pujut Lombok Tengah terpaksa belajar di emperan rumah.

Pasalnya, sekolah mereka dirobohkan pada bulan November 2020 lalu untuk proyek pembangunan jalan By Pass Bandara-Mandalika. Sampai saat ini belum ada bangunan pengganti. Selain SDN Tonjer, SMPN 15 Pujut juga dirobohkan.

Mental para siswa menjadi lemah karena diejek tidak memiliki sekolah.

“Saat masuk sekolah tanggal 12 Juli kemarin anak-anak kami di sini selalu diejek sama anak-anak di sekolah lain karena tidak mempunyai sekolah. Dia bersekolah tapi tidak punya sekolah,”kata Kepala SDN Tonjer, Fahrudin, Selasa (13/7/2021).

Dikatakan, untuk menguatkan mental para siswa, mereka diajak mengunjungi tempat relokasi pembangunan SDN Tonjer dan SMPN 15 Pujut yang berlokasi di tengah sawah di desa Sukadana. Para siswa diyakinkan kalau sekolah baru mereka akan segera dibangun.

“Tapi omelan dari orang tua murid juga sangat berat. Malah ada yang mau tendang saya. Katanya apa gunanya saya jadi kepala sekolah karena anak-anak tidak punya sekolah,”imbuhnya.

Jumlah siswa di sekolah tersebut sekitar 176 orang. Adapun saat ini tidak ada yang mendaftar karena melihat tidak ada bangunan sekolah.

Sebelum pembelajaran tatap muka dimulai pada tahun ajaran baru ini, sistem belajar dari rumah (BDR) yang diterapkan pemerintah sangat membantu. Karena siswa bisa belajar dari rumah.

Adapun saat ini, belajar tatap muka sudah dimulai meski dilakukan terbatas. Sehingga untuk sementara siswa belajar di rumah warga yang dibagi-bagi di beberapa tempat.

“Karena kalau dititip di sekolah lain itu jauh. Kurang aman. Sehingga kami sangat harapkan pembangunan sekolah baru ini segera diselesaikan,”katanya.

Senada dengan itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan kecamatan Pujut Lalu Wiraja meminta pemerintah mempercepat pembangunan relokasi sekolah. Sehingga siswa bisa belajar dengan baik dan nyaman.

“Karena situasi anak-anak kami di lapangan. Mau ditaruh di emperan rumah warga, warga marah. Namanya anak-anak pasti ada usilnya,”ujarnya.

Sehingga dia berharap agar ada tempat sementara yang disiapkan pemerintah bagi siswa untuk belajar sebelum pembangunan sekolah yang baru itu tuntas. Dengan begitu, siswa bisa belajar secara terpusat dan tidak lagi di emperan rumah warga.

“Seperti “tetaring” untuk tempat anak-anak belajar. Itu harapan kami,”katanya.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Lombok Tengah, Supriadin menyatakan apa yang menjadi keinginan kepala sekolah dan wali murid terkait penyediaan tempat belajar sementara bagi siswa akan disampaikan kepada Kepala Dinas untuk dibahas selanjutnya.

Sementara untuk pembangunan sekolah baru ini ditargetkan bisa tuntas dalam tahun ini. Sehingga bisa dipakai untuk kegiatan belajar mengajar.

“Diharapakan lelang bisa secepatnya seleksi dan pembangunan sekolah tidak melewati tahun ini,”ujarnya.

Dia mengklaim kalau pihaknya sudah maksimal di dalam mempercepat pembangunan sekolah dengan menyelesaikan Detai Engineering Desain (DED). Sehingga tinggal proses lelang. Harapannya pembangunan dilakukan dalam kurun waktu empat atau lima bulan.

“Sekarang dalam proses upload dokumen lelang,”katanya.

Anggaran yang disiapkan untuk membangun dua sekolah ini sekitar Rp6 miliar dengan luas lahan 1 hektare.