Pengunjung Luar Kota Serbu Pertokoan di Mataram

Seorang ibu bersama balitanya mengantre di depan meja kasir salah satu toko pakaian di wilayah Cakeanegara, Mataram, NTB, Senin Malam (18/5/2020). (Inside Lombok/ANTARA/Dhimas B.P.)

Mataram (Inside Lombok) – Pengunjung dari luar kota, terlihat banyak yang datang menyerbu komplek pertokoan di Mataram, Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Seperti salah seorang pengunjung perempuan asal Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, kepada ANTARA di Mataram, Senin malam, mengaku datang ke Mataram bersama suami dan anaknya hanya untuk mencari kebutuhan lebaran.

“Kalau di Mataram barangnya bagus-bagus, lengkap juga. Ini baru dapat beli baju anak-anak saja,” ujarnya usai berbelanja di salah satu toko pakaian di wilayah Cakranegara, Mataram.

Selain keluarga dari Kabupaten Lombok Tengah, ada juga sepasang muda mudi yang datang dari Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Keduanya yang enggan menyebutkan identitasnya mengaku membeli pakaian untuk persiapan hari raya.

“Cari busana muslim buat lebaran, sekalian bukber (buka bersama),” ujar pasangan si perempuannya.

Terkait dengan hal tersebut, Pemerintah Kota Mataram melalui Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Kota Mataram Ramadani, akan menjadikan informasi temuan ini sebagai bahan pelaporan kepada pimpinannya.

“Soal itu (pengunjung luar kota) nantinya akan kita evaluasi dan laporkan kepada pimpinan,” kata Ramadani yang ditemui dalam giat patroli lapangan bersama petugas gabungan TNI, Polri, mengecek penerapan protokol pencegahan penularan COVID-19 sejumlah pertokoan di Mataram, Senin malam.

Tidak hanya pengunjung dari luar kota, dari pantauan juga terlihat banyak ibu-ibu yang ikut mengajak anak balitanya berbelanja dan mengantre di kasir.

Meskipun pihak toko telah menerapkan protokol pencegahan penularan COVID-19, seperti sarana cuci tangan dengan sabun, hand sanitizer, pengecekan suhu tubuh, masker dan penempatan petugas khusus yang disiapkan untuk memantau jarak pengunjung, namun penerapannya masih terlihat belum maksimal.

Terkait dengan hal tersebut, Ramadani menyadari bahwa protokol pencegahan penularan COVID-19 masih sulit untuk diterapkan. Apalagi di tengah situasi menjelang Hari Raya Idul Fitri 2020 sudah menjadi momentum masyarakat berburu kebutuhan lebaran.

“Bisa dibayangkan ini (berbelanja) sudah menjadi tradisi tahunan menjelang lebaran, jadi tidak bisa kita serta merta langsung hentikan. Jadi sepertinya kita (petugas) yang harus banyak bersabar dan harus terus memberikan imbauan penerapan protokol COVID-19 kepada masyarakat,” ujarnya.

Terkait dengan protokol pencegahan penularan COVID-19, timnya mencatat permasalahan soal penerapan sistem “physical distancing”.

“Jadi masalah yang paling krusial adalah penerapan sistem jaga jarak antarpengunjung, ketika masuk toko, saat memilih barang dan antre di kasir,” ucap Ramadani.

Persoalan itu pun dikatakannya akan menjadi bahan laporan hasil giat patroli lapangan kepada pimpinannya. (Ant)