Puluhan Guru di Loteng Dilatih Implementasi Kurikulum Merdeka

32
Pembekalan implementasi Kurikulum Merdeka tahap 2B bagi guru SD/MI yang digelar di UPT Pujut, Selasa (20/9/2022) (Inside Lombok/Fahri)

Lombok Tengah (Inside Lombok) – Sebanyak 46 orang guru SD/MI yang ada di wilayah kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah dilatih Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM). Hal ini dilakukan agar para guru benar-benar siap mengimplementasikan kurikulum tersebut saat proses belajar-mengajar.

“Manfaat pelatihan ini adalah meningkatkan kompetensi guru khususnya terkait dengan kurikulum merdeka. Guru menjadi siap tentang Kurikulum Merdeka,” jelas fasilitator pelatihan, H. Edwin Rahadi.

Pelatihan ini diselenggarakan oleh Pemda Lombok Tengah dan Kementerian Agama (Kemenag) atas dukungan program INOVASI (Inovasi Untuk Anak Indonesia) tersebut dilakukan agar para guru benar-benar siap untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka.

Dikatakan, guru-guru yang menjalani pelatihan IKM adalah para guru kelas I-IV yang berasal dari SD/MI di kecamatan Pujut yang menjadi sasaran program Semua Anak CERDAS (cakap literasi dasar) dan sudah melakukan registrasi implementasi Kurikulum Merdeka.

Program SAC sendiri merupakan program kerjasama Pemda Lombok Tengah dan Universitas Mataram atas dukungan INOVASI yang menitikberatkan pada pembelajaran yang disesuaikan dengan level kemampuan siswa. Pola Kurikulum Merdeka ini dinilai sama dengan program SAC yang selama ini sudah berlangsung di beberapa sekolah sasaran.

Dia juga mengatakan bahwa pelatihan IKM bagi para guru yang dilaksanakan tersebut adalah pelatihan tahap dua yang merupakan lanjutan kegiatan yang sudah dilakukan sebelumnya.

Untuk tahap pertama, pelatihan yang dilakukan lebih pada pengenalan konsep Kurikulum Merdeka. Adapun pada tahap dua ini pelatihannya tentang bagaimana pengimplementasian Kurikulum Merdeka di masing-masing sekolah maupun madrasah.

Adapun materi pelatihan tahap dua tersebut dibagi menjadi beberapa unit. Di mana, unit satu yakni pelatihan tentang pengembangan Capaian Pembelajaran (CP) ke Tujuan Pembelajaran (TP) yang disusun oleh para guru.

“Kemudian di unit dua guru diperdalam bagaimana mengakses platform Kurikulum Merdeka, mulai dari absensi sampai memanfaatkan fitur-fitur yang ada di platform itu. Karena materi dan modul lebih banyak diakses di platform itu,” kata dia.

Pelatihan selanjutnya yakni di unit tiga mengenalkan tentang buku atau bahan bacaan untuk penguatan minat dan kemampuan peserta didik. Selanjutnya unit empat yakni mengembangkan modul ajar berdiferensiasi untuk pelajaran bahasa Indonesia.

Unit empat ini dianggap paling penting di dalam pengimplementasian IKM karena harus mempersiapkan modul ajar yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa dalam satu kelas, baik dalam kemampuan membaca dan menulisnya.

“Modul ajar yang akan digunakan langsung oleh para guru untuk dipraktekkan di sekolah atau madrasah. Kemudian mereka praktek untuk membuat modul ajar selama satu bulan yang akan diterapkan di sekolah,” terangnya.

Dia juga mengatakan, meski Kurikulum Merdeka akan aktif diberlakukan pada tahun 2023 mendatang, namun sebagian SD di kecamatan Pujut sudah mulai menerapkannya. “SD yang sudah mulai menerapkan. Kalau MI belum mulai karena sekolah yang bisa menetapkan Kurikulum Merdeka itu ditunjuk oleh pusat,” terang Edwin.

Sementara itu, salah satu guru, Nur Aini mengatakan, pelatihan yang dijalani tersebut membuatnya semakin paham bagaimana mengimplementasikan Kurikulum Merdeka di sekolah tempatnya mengajar. Selain itu, dia menilai kalau para guru sejatinya sudah siap untuk IKM tersebut. Karena sebelumnya sudah ada program SAC yang diterapkan dan polanya mirip dengan IKM yang menekankan pada pembelajaran berdasarkan level kemampuan siswa.

“Karena kan sasaran program INOVASI yang SAC. Pendekatan yang digunakan di SAC dan Kurikulum Merdeka sama. Tapi ini nanti semua siswa yang beda level kemampuan literasinya diajar dalam satu kelas dengan metode yang berbeda,” tandasnya. (fhr)