Stroberi Sembalun Malah Tak Berbuah Maksimal Libur Lebaran Ini

226
Wisatawan yang sedang memetik stroberi di Sembalun. (Inside Lombok/dok).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Sebagian besar petani stroberi di Sembalun mengeluhkan stroberi mereka yang tidak bisa berbuah maksimal pada musim panen kali ini.

Sehingga mereka tak dapat meraih untung lebih di saat musim libur lebaran yang justru lebih ramai. Karena tanpa penyekatan dan pembatasan tahun ini.

“Semakin banyak orang yang menanam, tapi malah stroberinya yang kurang berbuah sekarang,” keluh Haiqil, salah seorang petani stroberi yang ditemui saat memantau sawah miliknya.

Untuk lahan stroberi miliknya, Haiqil memasang tarif Rp15 ribu per orang untuk dapat memetik sendiri dan bisa langsung dikonsumsi. Berbeda bila para wisatawan memetik untuk dibawa pulang, ia mematok harga Rp50 ribu per kilogramnya.

“Kita pakai karcis Rp15 ribu masuknya untuk petik sendiri dan makan di dalam sampai puas. Tapi kalau dia beli Rp50 ribu satu kilogram,” jelasnya.

Namun, saat masa panen yang bertepatan dengan libur lebaran kali ini ia mengaku stroberi yang ditanamnya sejak Desember lalu baru bisa hanya empat kali dipetik. Kondisi itu pun disebutnya jauh berbeda jika dibanding dengan musim panen saat lebaran tahun lalu.

“Ini kita tanam bulan 12 (Desember 2021), tapi sampai saat ini baru empat kali dipanen. Karena buahnya sedikit,” lirihnya.

Bahkan, lapak-lapak di pinggir jalan yang biasanya dipenuhi warna merah merona dari buah stroberi yang sudah dikemas justru terlihat sepi. Hanya beberapa lapak yang terlihat menawarkan buah stroberi.

“Kalau kunjungan wisatawan, memang lebih banyak di liburan tahun ini. Tapi ya gimana, malah buahnya yang kurang,” imbuh Haiqil.

Padahal, ia mengklaim dirinya sudah melakukan perawatan dengan pupuk yang sama dengan yang sebelum-sebelumnya. Sehingga kondisi ini pun disinyalir juga terjadi akibat anomali cuaca yang beberapa kali masih turun hujan meski sudah memasuki musim kemarau.

“Iya karena perubahan musim mungkin, karena stroberi ini sangat tergantung sama musim. Masa tanam sampai berbuahnya kan saat kemarau,” terangnya.

Haiqil menuturkan, pada musim panen sebelumnya ia bisa menghasilkan hingga 30 kilogram di lahan seluas 6 are miliknya. Namun, saat ini, ia justru hanya bisa memanen sekitar 10 kilogram yang dibeli oleh pengepul dengan kisaran harga Rp20 ribu per kilonya.

“Kalau dulu kita panen dapat kita 30 kilogram, tapi kemarin ini kita panen cuma dapat 10 kilogram,” pungkasnya. (yud)