TWA Gunung Tunak Masih Blank Spot

143
Puluhan ekor rusa di tempat penakaran TWA Gunung Tunak beberapa waktu lalu. (Inside Lombok/Ida Rosanti)

Lombok Tengah (Inside Lombok) -Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tunak di Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah menjadi salah satu tempat wisata edukatif di Pulau Lombok. Beragam flora dan fauna menjadi pemandangan yang bisa dilihat. Kendati demikian, hingga kini kawasan tersebut masih blank spot.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTB, Joko Iswanto mengatakan persoalan blank spot ini akan menjadi prioritas pihaknya untuk segera diatasi. “Pasti akan kita lakukan upaya untuk atasi blank spot. Paling lambat target kita sebelum MotoGP (di 2022) itu sudah teratasi,” katanya.

BKSDA akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, dalam hal ini Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) dan perusahaan provider untuk mengatasi persoalan blankspot ini.

Dijelaskan, TWA Gunung Tunak menyimpan kekayaan ragam flora dan fauna, baik yang dilindungi maupun liar. Tanaman-tanaman seperti puna jiwa atau songgak, wali kukun, ekas, ketimis, hingga cabai hutan tersedia di kawasan dengan luas 1.297,2 Ha tersebut.

Selain itu, beragam satwa ada di TWA Gunung Tunak seperti burung gosong, elang laut, elang putih bondol, elang ular, ular sanca, kera ekor panjang, babi hutan, musang, hingga tupai.

“Ada juga rusa di tempat penakaran sekarang jumlahnya 46 ekor. Ada juga jambul kuning, elang,” imbuhnya. Joko melanjutkan, di TWA Gunung Tunak ini pihaknya menerapkan Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism-CBT) yang mulai dirintis sejak 2013 lalu.

Di dalamnya ada 3 misi utama yakni meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan jumlah kunjungan dan juga meningkatkan Pendapatan Negara Bukan Pajak BNBP.

Tidak sampai disitu, program kemitraan ini juga berlanjut pada awal 2015 dengan menjalin kerja sama Government to Government dalam hal ini Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan (KLHK) dengan Pemerintah Korea Selatan melalui Korea Forest Service.

“Lingkup program kami di TWA Gunung Tunak dalam upaya mewujudkan pengembangan ekowisata. Diantaranya, menyusun Master Plan wisata TWA Gunung Tunak, mengembangkan kapasitas SDM dan pembangunan sarana prasarana wisata alam,” terangnya.

Ia juga menyampaikan, untuk penyusunan master plan dilakukan pada 2014. Sedangkan pengembangan SDM masyarakat, petugas, serta stakeholder dimulai sejak 2015. Kemudian pembangunan sarana wisata alamnya dilakukan pada 2016.

Sedangkan untuk Kelompok Masyarakat Tunak Besopoq dibentuk pada 2015 sebagai representasi seluruh elemen masyarakat di Desa Mertak dengan jumlah anggota sebanyak 30 orang dan saat ini jumlahnya sudah mencapai 95 orang.

“Pelatihan, pendidikan, training dan magang serta pendampingan menjadi kunci keberhasilan kami dalam pengembangan wisata alam di TWA Gunung Tunak,” katanya. (irs)