Warga Batu Kumbung Lestarikan Ritual Roah Gubuk Sebagai Wujud Syukur Hasil Panen Melimpah

 

Lombok Barat (Inside Lombok) – Masyarakat Dusun Batu Kumbung, Desa Batu Kumbung, kecamatan Lingsar, menggelar ritual budaya “Roah Gubuk” sebagai bentuk pelestarian budaya dan ucapan syukur atas hasil panen raya yang melimpah. Serta sebagai pertanda, siapnya masyarakat untuk turun kembali ke sawah dan menanam lagi.

Roah Gubuk ini dimulai dengan do’a bersama. Masyarakat setempat beramai-ramai menyuguhkan sesaji dan dulang untuk begibung (makan ramai-ramai). Roah ini digelar di Petilasan Syekh Al Hamidi, Patinglage Deneq Prawangsa.

H. Mudri, salah seorang tokoh adat setempat menuturkan, mengapa dalam ritual adat itu disediakan sesaji, mulai dari bunga rampe, lanjaran dan peralatan roah adat yang lainnya. Yang mana di lokasi itu pun juga dipenuhi aroma kemenyan. Itu ditujukan untuk dapat mengheningkan suasana di lokasi acara do’a digelar. Supaya suasana dalam memanjatkan do’a dapat menjadi lebih khidmat dalam meminta petunjuk dan Rahmat Allah.

“Sebetulnya, kita membakar kemenyan ini dengan niat untuk mengheningkan suasana di tempat ini. Karena kita akan meminta berkah di sini, jadi untuk itu perlu kita heningkan suasana” tutur salah satu tokoh adat dusun Batu Kumbung ini, Kamis (11/03/2021).

Sehingga dalam mengembangkan desa wisata, situs budaya yang dipercaya sakral, petilasa Patinglage Denenq Prawangsa dan berbagai ritual budaya yang ditinggalkannya sebagai wujud tata cara bersyukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan yang Maha Esa. Yang hingga kini masih tetap dilestarikan oleh warga sekitar, yang disebut dengan Roah Adat Selamet Gubuk ini, dapat menjadi potensi pengembangan desa wisata yang memiliki keunikan tersendiri.

Tidak sampai di situ, kawasan itu pun hendak dikembangkan juga menjadi Museum Dusun. Karena banyak lokasi di dusun itu yang masih menyimpan dan merawat peninggalan bersejarah. Mulai dari Al Qur’an dengan tulisan tangan, tulisan lontar, keris, alat musik, hingga rumah pertama yang disinyalir sebagai tanda lahirnya Desa Batu Kumbung.

Marzuqi, Camat Lingsar pun berharap, dengan tetap diselenggarakannya ritual kebudayaan semacam ini, dapat mengubah pola pikir masyarakat. Bagaimana kemudian harus bersama-sama mempertahankan kearifan lokal yang ada di lingkungannya. Sehingga budaya yang tetap dijaga kelestariannya itu, diharapkan dapat juga menjadi daya tarik wisatawan. Yang nanti akan dapat juga meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

“Ini sebagai salah satu desa wisata yang memiliki potensi kebudayaan dan sejarah. Karena saat ini, tujuan wisata tidak hanya pantai, gunung dan hutan. Tetapi juga kembali ke budaya-budaya yang ada dan patut diketahui oleh para wisatawan” tegasnya.

Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Ari Garmo, Memaparkan, bahwa sebagai salah satu indikator kemajuan pariwisata adalah mampu mensejahterakan masyarakat yang ada di kawasan pariwisata itu. Tidak terkecuali wisata desa yang juga menurutnya perlu dikembangkan tanpa mengubah dan merusak budaya yang ada.