Marjinalisasi Masyarakat dalam Pretentious Tourism

146

Pretentious Tourism adalah istilah yang muncul dalam benak saya ketika melihat ibu-ibu berlari kocar-kacir karena jangkih—alias tungku sederhana—mereka belum menyala seutuhnya untuk proses pembuatan kopi Lombok; yang katanya merupakan sebuah atraksi budaya andalan mereka. Suara musik tradisional dari kantor desa di kejauhan beradu dengan gelegar instruksi dari pengelola wisata di desa itu, “Cepat! Cepat!” begitu perintahnya.

Kepulan asap jangkih baru saja membumbung, tepat ketika 60 rombongan mahasiswa lokal berkunjung. “Ada yang mau mencoba menggoreng kopi?” tanya sang pemandu sekaligus instruktur wisata budaya yang mulia itu. Sementara, sebut saja, Inaq Awan, Inaq Melati, dan Inaq Itet menyodorkan spatula batok kelapa kepada Marry, salah satu mahasiswi yang bernama asli Mariam. Adapun Amaqn Tigor dan Tigor hanya melihat dari kejauhan. Wajah mereka menampakkan kelesuan dan kantuk, akumulasi dari sekian malam lalu memperbaiki atap ilalang lokasi produksi kopi Lombok, yang nyatanya hanya disinggahi tak lebih dari 10 menit oleh “tamu” mereka.

Saya lalu melakukan Google search, mengetik dua kata tanpa tanda kutip: PRETENTIOUS TOURISM, lalu muncul 8.200.000 hasil pencarian dalam 0.38 detik. Dilanjutkan dengan membubuhkan tanda petik pada awal dan akhir deret dua kata tersebut: “PRETENTIOUS TOURISM”, dan muncul 5080 hasil pencarian dalam 0.30 detik. Tak ada informasi signifikan dalam pencarian makna PRETENTIOUS TOURISM, sebab semua informasi lebih mengarah ke PRETENTIOUS TRAVELERS—yakni mereka, para turis, yang menikmati jenis wisata tertentu dengan pura-pura berperan sebagai orang  lokal, seperti berpenampilan sedemikian rupa sehingga tampak mingle (menyatu) dengan masyarakat lokal.

Sekarang saya akan coba mengganti lensa pandang, yakni menggunakan kacamata penyedia jasa pariwisata—pemerintah, pemandu wisata, dinas terkait, hingga masyarakat lokal. Melalui kacamata ini, khususnya posisi masyarakat lokal, saya pun akan menyodorkan istilah yang sejak awal saya sebutkan muncul dalam benak ini: Pretentious Tourism.

Kita coba belas alias ceraikan istilah ini tanpa belas kasihan. “Pretentious”, menurut kamus Collins Cobuild, berarti seseorang atau sesuatu yang mencoba atau dicoba untuk menjadi penting dan signifikan meski fakta berkata tidak. Sedangkan “Tourism”, masih menurut kamus yang sama, adalah usaha penyediaan jasa rekreasi. Maka, jika kita menikahkan sejoli kata ini, bolehlah kita artikan bahwa Pretentious Tourism adalah jasa pariwisata yang dipaksakan signifikan dan menjadi penting—dengan memaksa masyarakat menampilkan budaya dan cara hidup yang tidak, atau mungkin sudah tidak, mereka terapkan (lagi).

Inaq Awan, Inaq Melati, Inaq Itet, Amaqn Tigor, dan Tigor adalah aktor pasif dari Pretentious Tourism ini; masyarakat lokal yang dijejalkan ke dalam mesin waktu, kemudian dimampatkan secara paksa ke kehidupan 30 tahun lalu.

Adakah masyarakat sekitar masih memakai sogon tanaq (penggoreng tanah) atau geneng (alu) dalam proses pembuatan kopi bubuk Lombok? Atau membajak tanah dengan kerbau, memupuknya dengan kotoran sapi, lalu memanen padi dengan alat tradisional? Mungkin masih ada, tapi tak banyak. Sebagian besar dari kita telah meninggalkan cara hidup itu.

Mengapa demikian? Mari bertanya ke diri masing-masing: masyarakat di lapisan mana yang paling mudah termakan janji-janji manis iklan sirup terbaru, detergen terbaru, mesin penggiling terbaru, atau pupuk termanjur? Jawabannya—sebagian besar—adalah mereka yang jalan hidupnya berbanding lurus dengan tingkat pengetahuannya, yang di mana mereka merupakan masyarakat lokal. Lalu, atas nama wisata budaya alternatif, adilkan jika masyarakat lokal dipaksa berlakon menjalani hidup yang tidak mereka lakukan lagi?

Wahai pengelola wisata yang berada pada piramida hierarki di atas aktor-aktor pasif ini, memang betul bahwa konsep ini sangat cemerlang: menggali kembali budaya-budaya yang hampir punah sebagai sajian wisata utama. Akan tetapi, bukankah harusnya Anda mencintai dan mengajarkan masyarakat lokal untuk mencintai budayanya lebih dulu? Dengan begitu, mereka tak lagi akan melakoni tokoh lain—selain diri mereka sendiri.

Menurut Theng (2015), seorang praktisi pariwisata alternatif, industri pariwisata akan berdiri kokoh apabila ada pelibatan masyarakat lokal dalam pengembangannya. Sedangkan bagi pengembangnya, mereka harus melalui proses menggali pengetahuan mengenai alam dan masyarakat di sebuah lokasi, barulah kemudian melemparkan konsepnya ke wisatawan.

IMG 20220604 WA0002
Ilustrasi patung Putri Mandalika (image source: dailysia.com)

Saya bukanlah seorang praktisi pariwisata alternative; saya hanyalah bagian dari masyarakat awam yang kebetulan memakai kacamata berlensa lebih luas secara sosial. Maka naiklah ke atas cockpit pesawat imajiner saya, lihatlah Lombok sebagai pulau indah bak perawan suci—persis reinkarnasi Puteri Mandalika mengenakan selendang sutra biru pertanda pantai-pantai Lombok yang jernih berpasir merica.

Lalu naikilah parasut imajiner saya, kita terjun ke pelosok desa yang hijau dari kejauhan, di mana kepulan asap dari tungku-tungku perempuan penanak nasi dan penggoreng kopi terpecah oleh ranting-ranting pohon menjulang tinggi. Dari balik pintu kayu rumah beralas tanah beratap ilalang, tuan-tuan rumah tersenyum ramah menyuguhkan secangkir kopi Lombok dan sepiring pisang goreng yang baru saja berenang dalam segenang minyak jeleng.

Tak ada tersirat raut-raut wajah bingung yang seolah berkata “Apa yang saya bisa tiru dari Bali?” Melainkan manusia-manusia yang menghargai alam dan akar budayanya sembari menggali makna kehidupan. Dan, kepada para turis mereka akan berkata: “This is just another day and you’re just another person and I will serve you with another kindness!”

IMG 20220604 WA0003Toni Ariwijaya, seorang pengajar dan masyarakat asli Lombok Tengah. Sehari-hari, setelah mengajar, Toni bertani dan berkebun sembari menjadi _social observer_. Pernah menempuh pendidikan di negeri seberang—tepat di bawah peta Pulau Lombok, dan pernah bermain-main bersama kangguru di sana.