275 Orang Jadi Korban Virus Rabies di Dompu

proses Eliminasi dan pengambilan sampel otak anjing rabies di Kecamatan Manggelewa (Inside Lombok/Istimewa)

Mataram (Inside Lombok) – Setelah dinyatakan Kasus Luar Biasa (KLB) oleh Bubati Dompu, Drs. Bambang M. Yasin, berdasarkan hasil uji laboratorium daru Balai Besar Veteriner Denpasar Bali pada Rabu (16/01/2019), kasus rabies di Kabupaten Dompu masih mengkhawatirkan.

Sampai 20 Januari 2019, tercatat sebanyak 192 orang terjangkit virus tersebut, dimana dua diantaranya meninggal dunia. Sampai dengan 22 Januari 2019, jumlah tersebut bertambah menjadi 275 orang di enam (6) Kecamatan di Dompu.

Enam (6) kecamatan tersebut adalah Kempo, Manggalewa, Dompu, Pajo, Hu’u, dan Woja. Rata-rata korban terkena gigitan di bagian bahu serta kaki, terutama oleh anjing liar di sekitar tempat bermukimnya.

“Di daerah itu banyak yang memelihara anjing untuk menjaga ladangnya. Karena dibiarkan berkeliaran, jumlahnya diduga jadi banyak karena itu,” ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Budi Septiani, ketika ditemui pada Selasa (22/01/2019).

Menanggapi kasus rabies tersebut, Sekretaris Daerah Setda NTB, Rosiady Husaenie Sayuti, mengadakan rapat koordinasi dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi serta Kabupaten, Balai Besar Veteriner Denpasar, dan Direktorat Kesehatan Hewan pada Selasa (22/01/2019).

Dalam rapat yang diadakan di Ruang Rapat Setda NTB tersebut, salah satunya adalah pembatasan keluas masuknya Hewan Pembawa Rabies (HPR) dari dan ke Pulau Sumbawa melalui pelabuhan-pelabuhan se-Pulau Sumbawa.

“Ini kan dari delapan (8) kecamatan sudah ada enam (6) yang kena. Kita berusaha mencegah supaya virusnya jangan sampai menyebar ke kecamatan atau kabupaten lain. Karena ini penyebarannya memang cepat sekali,” ujar Septiani.

Kepala Balai Besar Veteriner Denpasar, I Wayan Masa Tenaya, menerangkan bahwa sampai sekarang Timnya masih berusaha menyelidiki apakah virus rabies yang menjangkiti anjing liar di Dompu berasal dari virus rabies di Bali atau dari virus rabies di NTT.

“Karena NTB ini belum punya sejarah rabies. Kami masih menyelidiki virus tersebut dari mana, dari bali atau dari NTT,” ujar Tenaya.

Tenaya juga menambahkan, usaha vaksinasi telah dilakukan oleh Timnya dimana telah dikirim sebanyak 3.000 dosis vaksin ke Kabupaten Dompu. Selain itu, usaha penetralan HPR maupun eliminasi akan mungkin dilakukan jika virus ini masih terus menyebar.

Virus rabies sendiri adalah virus yang bekerja menyerang langsung ke sistem saraf otak dan hanya ditularkan melalui media air liur hewan terjangkit. Korban yang telah terkena gigitan tidak akan langsung merasakan efeknya, kecuali virus tersebut telah sampai ke otak.