Tim Puskesmas Meninting Datangi Balita Penderitaan Exstrophy Bladder

124
Kepala Puskemas Meninting, Zainal Abidin, saat ditemui di Puskemas Meninting. Senin (28/09/2020). (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur'ani).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Dinas Kesehatan Lombok Barat, hari ini, Senin (28/09/2020) diwakilkan oleh tim dari Puskesmas Meninting, turun untuk memeriksa kondisi Adam Sufyan Ast Sauri, balita dua tahun asal Batu Layar Barat yang menderita exstrophy bladder. Kelainan tersebut menyebabkan kandung kemihnya berada di luar atau di dinding perut.

Dari hasil peninjauan yang dilakukan tim dari Puskemas Meninting, diakui oleh Zainal Abidin selaku Kepala Pukesmas (Kapus) Meninting, bahwa kelainan yang diderita oleh Sufyan merupakan kasus langka. Sehingga pihak keluarga diminta untuk proaktif mengontrol kondisi Sufyan ke pelayanan kesehatan terdekat.

“Tadi memang kita berkunjung ke rumah pasiennya, setelah kami konfirmasi ke sana memang dia (Sufyan) telah menjalani dua kali operasi” katanya.

Kemudian setelah operasi kedua yang pernah dijalani Sufyan di Surabaya belum berhasil, pihak keluarga kata Abidin, berencana akan mengoperasi kembali Sufyan setelah dirinya berusia sekitar 5 -7 tahun.

“Dan ternyata yang bersangkutan punya JKN mandiri kelas I, sehingga kami menganjurkan untuk berkoordinasi dengan Dinsos, supaya mendapatkan JKN PBI” ungkapnya.

Karena keluarga dari Sufyan sendiri untuk saat ini sudah tidak dapat melakukan biaya kontrol rutin secara mandiri. Sehingga dianjurkan untuk mengajukan JKN PBI tersebut ke Dinsos.

Namun, yang disayangkan oleh petugas kesehatan, kata Zainal Abidin bahwa selama ini yang bersangkutan jarang dan bahkan hampir tidak pernah dibawa ke Posyandu. Sementara dalam usia dan kondisi Sufyan yang saat ini, dinilai perlu pemantauan intens dari tenaga kesehatan yang berkunjung dalam program Posyandu.

“Sebenarnya, kalau yang bersangkutan harus rajin datang ke Posyandu, karena dalam posyandu itu kan banyak hal yang bisa didapatkan di sana termasuk pemantauan perkembangan, serta kondisi bayi dan balita yang ada di wilayah Batu Layar” terang Zainal Abidin.

Sehingga petugas yang datang berkunjung mengimbau supaya keluarga Sufyan ke depannya bisa lebih rajin membawa Sufyan ke Posyandu, guna dapat membantu pertumbuhan dan kesehatannya.

“Kondisi pasien membaik, cuma harus tetap dikontrol kondisinya. Kami sudah menganjurkan untuk rutin melalukan kontrol, baik ke kita (puskesmas Meninting) atau ke rumah sakit. Cuma dia sepertinya sudah 2 atau 3 bulanan belum bayar JKN mandiri, sehingga kita arahkan ke Dinsos dulu” beber kepala Puskemas Meninting ini.

Sehingga nantinya Dinsos yang memiliki wewenang untuk membantu yang bersangkutan menerbitkan kartu yang dapat disesuaikan dengan kondisi perekonomian yang bersangkutan saat ini.

“Karena yang bersangkutan sudah tidak mampu untuk membiayai kartu JKN Mandirinya” imbuh Abidin.

Sehingga pihak tenaga kesehatan terkait dapat mengarahkan pengobatan yang tepat. Mengingat bahwa peralatan untuk pengobatan kelainan yang diderita Sufyan di NTB ini belum memadai. Oleh karenanya upaya yang dapat dilakukan tenaga kesehatan setempat untuk saat ini adalah membantu mengontrol kondisinya dan perawatan bekas luka operasi sebelumnya.

“Kalau untuk sekedar perawatan luka bisa disini, cuma kalau untuk tindakan, harus ke rumah sakit. Paling tidak ke rumah sakit provinsi karena itu yang paling lengkap disini” sebutnya.

Dan kasus yang dialami Sufyan perawatannya harus bertahap karena kelainan yang dialaminya, lanjut Abidin, memerlukan perawatan khusus dan peralatan memadai.

Menanggapi hal tersebut, Tarmizi selaku anggota dewan Lombok Barat, Dapil Batu Layar dan Gunung Sari menyebutkan bahwa, setelah menerima informasi mengenai adanya kasus Sufyan yang masuk di kawasan perwakilannya, dirinya mengaku prihatin. Sehingga disebutnya, dirinya langsung mengkonfirmasi kasus tersebut ke Pemda Lobar dan dinas terkait yang dapat menangani.

“Memang ini kan kasus lama, dari Dikes juga pernah menyampaikan bahwa saat baru lahir, Dikes sudah pernah mengunjungi waktu itu dan Pemda juga mengklaim pernah memberi support bantuan” katanya.

Tetapi kembali lagi, mengingat bahwa kondisi yang dialami Sufyan merupakan kasus langka. Sehingga diharapkan, kepada keluarga untuk bisa lebih proaktif lagi untuk tetap melalukan kontrol melalui kegiatan yang diprogramkan pemda dan dinas terkait, seperti posyandu.

“Karena setelah lahir, katanya Sufyan itu hanya dibawa sekali ke posyandu. Mungkin ini juga karena ibunya menjadi seorang TKW. Sehingga dinas terkait pun kesulitan untuk melakukan kontrol” bebernya.

Saat ini, diakui Tarmizi bahwa dirinya mendorong kepada Dinas Kesehatan, selain meminta keluarga pasien untuk proaktif mengontrol kondisinya. Dikes juga diharapkan oleh Tarmizi, supaya dapat juga menelisik kondisi sosial ekonomi keluarga yang bersangkutan. Sehingga Pemda juga diharapkan dapat lebih proaktif untuk mengikuti dan memantau terus sejauh mana perkembangan pasien.

“Pihak tenaga kesehatan yang bersangkutan juga mengakui bahwa rumah sakit di daerah (NTB) maupun di luar daerah, itu memiliki keterbatasan untuk mendiagnosa proses penanganan medis seperti apa yang tepat untuk digunakan dalam kasus Sufyan ini” terang Tarmizi.

Selain itu, lanjut Tarmizi bahwa Dikes juga mengakui adanya keterbatasan alat untuk penanganan kelainan yang dialami Sufyan tersebut.

“Kalau kami selaku perwakilan masyarakat ya tentunya nanti mungkin ada celah yang bisa kita gerak kan termasuk bersama mitra DPRD yang sama-sama di dapil IV untuk coba menggalang donasi” ungkapnya.

Dirinya pun mengaku ingin bersinergi dengan LSM-LSM yang ingin menggalang dana untuk membantu pengobatan kelainan yang dialami Sufyan tersebut.

“Saya sebenarnya membuka pintu juga untuk bisa membukakan mereka jaringan untuk bisa membukakan bantuan-bantuan baik itu pembiayaan medis dan lainnya” imbuh anggota DPRD Lobar dapil Batu Kayar-Gunung Sari ini.