PGRI: Pandemi COVID-19 Momentum Guru Untuk Bangkit

Ilustrasi Guru sedang mengajar di kelas

Jakarta (Inside Lombok) – Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Prof Dr Unifah Rosyidi mengatakan pandemi COVID-19 menjadi momentum bagi guru untuk bangkit, bersatu, dan belajar bersama.

“Pandemi COVID-19 menjadi momentum untuk bangkit, bersatu, belajar bersama, bergerak bersama. Tertib bersama melawan COVID-19, melawan kemalasan dan ketertinggalan,” ujarnya saat membuka webinar dan pelatihan “Self Driving for Teacher: Menciptakan Pola Belajar yang Efektif dari Rumah” di Jakarta, Sabtu.

Ia menambahkan kondisi yang terjadi saat ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya, yang mana masyarakat bekerja dan belajar di rumah.

Guru, katanya, juga perlu bekerja sama dengan orang tua dan berbagai pihak untuk mencari jalan keluar agar menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan.

“Teknologi pembelajaran yang dirasa sulit, namun ternyata kita bisa melakukannya. Kita bisa melakukan inovasi dengan bantuan teknologi pada saat ini,” kata Unifah.

Untuk proses pembelajaran di rumah di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) yang memiliki keterbatasan jaringan internet, Unifah mengimbau guru untuk dapat berimprovisasi serta melakukan inovasi agar dapat melayani anak didik.

PGRI bekerja sama dengan Mahir Academy Rumah Perubahan mengadakan webinar dan lokakarya daring berseri sejak 2-20 Mei 2020 dengan jumlah peserta 13.000 orang dari 34 provinsi di Indonesia. Melalui webinar tersebut, PGRI mengenalkan cara baru dalam pelatihan pendidikan.

Pendiri Rumah Perubahan, Prof Rhenald Kasali, mengatakan masyarakat memasuki era baru yang tidak mudah.

“Teknologi tidak mudah bagi kita semua. Termasuk bagi para guru yang tidak terbiasa. Banyak orang-orang lama yang merasa gagap teknologi dan kesulitan beradaptasi dengan perubahan,” kata dia.

Meski demikian, Rhenald mengimbau guru-guru tidak cemas berlebihan karena lambat laun akan terbiasa, dengan catatan harus tekun belajar untuk menguasai teknologi pembelajaran.

“Kalau mudah kita akan menjadi autopilot, dan tidak akan ada perubahan dan pembaharuan. Kesulitan jangan dianggap sesuatu yang mengganggu,” imbuh Rhenald. (Ant)