Kampung Si Teleng – Puisi Muhammad Asqalani eNeSTe

209

Eoreor

bapak, kenapa eoreor itu datang berkerumun serupa kelekatu?
apakah mereka mengerubungi lampu terongkeng,
atau pekuburan beratap seng, atau mayat yang oppung po
atau ruh orang-orang yang gentayangan mencari tangan?

kenapa diam bapak?
jangan cuma ribut mengaji dengan huruf-huruf
yang meluncur lewat mulut hanya demi uang.

bapak, bapak, jangan cuma diam bapak!
ah, enak juga rupanya daging eoreor bapak ini.
esok, lusa, ke kuburan mana lagi bapak akan mencari

ajari aku bapak, orang-orang yang mengingat Tuhan
karena dibayar

Kubang Raya, 2021

Rahasia Tak Usai

sebagian
dari imanmu adalah kondomium terbakar di ujung amsal.
di mana tempat tinggal?

Isa memperjuangkan kaki Tuhan dan rela berkelahi dengan menjangan
di dalam impian dan doa-doa petualang.

kubayangkan runyam sudah membulan di depan rahasia terang Maryam.
sebelum menggenggam batang kurma seperti tiang sembahyang.

terpujilah perihal perih yang menggoda Adam sejak kejatuhan Tuhan
di lingkar penyesalan. maka aku membaca ayat-ayat pertemuan.

demi telur entok di pangkal tenggorokan dan rasa gampang tersinggung
ala nenek gunung. lembah yang pecah di hira dadamu sama sekali bukan Thua.
sama sekali belum dosa dan pahala.

Kubang Raya, 16 Desember 2021

Sesat Sesal

sesalmu yang azali adalah sesat yang menali;
mengusutkan benang benar agama,
menghancurkan kenang besar rahasia.

benarkah Tuhan yang tabah, menerima manusia jadah;
hari-hari haru-haru, menangis sebab salah yang itu ke itu.

kau pergi kepada hening, mencari sayap malaikat
yang gugur pada tahiat kening.

lalu debam malam di lingkar jam,
mengarahkanmu kepada pejam.

begitu jaga, kau lihat kotak surga milik pak pos yang telah mati;
saat mengantarkan surat sesat beralamat rumah Tuhan.

Kubang Raya, 25 Januari 2022

Kampung Si Teleng

lima puluh lima ribu jam dari keyakinan tiang kanak-kanakku yang kokoh
lima ratus tiga puluh meter dari sekolah, aku menimba sumur suci Tuhan
lima meter dari sempit mataku yang ketakutan;

di sanalah, anak kecil berambut pirang darahnya dihitamkan Tuhan
di sanalah, perempuan muda kehilangan separuh hidungnya, separuh hidupnya
di sanalah, ibu paruh baya kehilangan fungsi kebaya yang kini bersimbah darah

kecelakan maut di Kampung Si Teleng, membuat kepalaku menggeleng-geleng,
ibaku berguling-guling, juga bayangan Tuhan di aspal tikungan,
menjelma roda tronton paling kejam menggilas nasib naas

lima inci dari limfa
lima kata dari dada

heningku adalah airmata yang berperahu memuat ruh-ruh mereka; semoga surga.

Kubang Raya, 17 November 2021

IMG 20220424 WA0007Muhammad Asqalani eNeSTe, adalah Pemenang II Duta Baca Riau 2018. Mengajar English Acquisition di TK Islam Annur Bastari. Mengajar English Daily Conversation di Smart Fast Education. Ia tengah gigih belajar Bahasa Spanyol. Menulis puisi sejak 2006. Ia sedang mempersiapkan buku puisinya yang kesebelas Lappidung. Puisinya tersebar di berbagai media sejak 2009. Ia memenangkan sejumlah lomba menulis, juga membaca puisi nasional. Beberapa kali diundang jadi motivator menulis. Ia mengajar puisi di KPO WR Academy dan Asqa Imagination School (AIS). Dapat dijumpai di Twitter: @katadentoj IG: @muhammadasqalanie. Youtube: Dunia Asqa.