Sri Devi, Warga Miskin di Praya Ini Lumpuh Selama 22 Tahun

631
Kondisi Sri Devi yang dirawat neneknya yang sudah renta. (Inside Lombok/Istimewa)

Lombok Tengah (Inside Lombok) – Seorang wanita bernama Sri Devi (26) mengalami kelumpuhan selama kurang lebih 22 tahun. Ia menderita penyakit ini sejak berumur 5 tahun yang diawali dengan gejala kejang-kejang disertai demam tinggi. Semenjak itulah Devi mulai tidak bisa berjalan.

Berdasarkan keterangan dari seorang aktivis sosial, Pauzi, saat ini Devi tinggal bersama kakek dan neneknya di Gonjak, Kecamatan Praya, Lombok Tengah. Kedua orang tuanya sudah lama bercerai dan meninggalkan Devi bersama kakek dan neneknya yang sudah lansia.

“Mereka cuma bertiga, rumahnya sudah tidak layak huni. Cuma ada dua kamar, itu pun ruang tamu dijadikan sebagai kamar untuk Devi agar lebih leluasa,” jelas Pauzi kepada Inside Lombok, Kamis (31/01/2019).

Sehari-hari Devi hanya bisa mengonsumsi bubur atau nasi yang sudah lembek. Sebab sudah tidak ada makanan yang dapat dicerna dengan baik karena kondisinya terus mengalami penurunan.

“Gigi Devi pun sudah tidak ada. Berdasarkan keterangan dari neneknya, bisa jadi pada saat itu dia tidak bisa tidur dan lapar sehingga mungkin giginya tertelan, begitu kata neneknya,” ujarnya.

Sebelumnya, Devi sudah pernah dirujuk ke RSUD Praya ketika ia merasakan gejala awal di umur 5 tahun. Ia sempat dirawat sekitar 4 sampai 5 hari.

Namun karena kendala ekonomi, pada waktu itu Devi harus dipulangkan. Akhirnya setelah pulang, tubuhnya justru semakin kaku sehingga ia tidak bisa berjalan dan hanya bisa berbaring di atas tempat tidur.

WhatsApp Image 2019 01 31 at 21.37.41
Kondisi rumah nenek dan kakek Sri Devi yang menjadi tempat tinggalnya selama ini. (Inside Lombok/Istimewa)

“Sekitar hampir satu tahun ini saya bina, sempat kita ingin rujuk tapi dia tidak ada BPJS maupun KTP, neneknya juga tidak punya,” tambah Pauzi.

Kondisi Kakek dan Nenek Devi yang berumur sekitar 75 tahun tersebut sudah tidak bekerja lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Menurut Pauzi, sewaktu-waktu kakeknya bekerja sebagai buruh tani namun tidak sering mengingat umurnya yang sudah semakin tua.

“Satu kali dalam dua atau tiga bulan harus check up juga kondisi kesehatan kakek dan neneknya,” kata Pauzi.

Beberapa tahun silam, tim relawan lainnya berhasil mengajukan dana bantuan dari Baznas untuk Sri Devi. Namun, untuk saat ini belum ada bantuan baik dari instansi pemerintah maupun swasta.

Pauzi juga mengaku bahwa dirinya pernah memberitahukan keadaan Devi dan keluarganya ke Lurah setempat, akan tetapi respon yang diterima tak sesuai harapan. Tidak ada pula tindakan dari pihak kelurahan.

Selama ini bantuan untuk memenuhi kebutuhan Devi dan keluarga hanya dari para relawan dan warga sekitar yang memahami kondisi tersebut.

“Setiap dua minggu sekali kalau tidak sebulan sekali tetap antarkan sembako seperti telur, beras, mie, dan pampers yang paling utama. Sebelumnya juga kami kirimkan kasur untuk neneknya yang selama ini tidur beralaskan tikar,” ungkap Pauzi.