Wali Kota Mataram Ajak Lestarikan Perayaan “Lebaran Topat”

Ahyar Abduh (Inside Lombok/Humas Pemkot Mataram)

Mataram (Inside Lombok) – Perayaan Lebaran Topat adalah salah satu tradisi yang masih di jaga oleh masyarakat di Pulau Lombok. Perayaan tersebut memiliki makna tersendiri, tidak terkecuali bagi Wali Kota Mataram, Ahyar Abduh.

Lebaran Topat sendiri adalah sebuah perayaan yang biasanya jatuh sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri, tidak terkeculai untuk Lebaran 1440 Hijriah/2019 Masehi kali ini. Ditujukan untuk menjadi perayaan bagi umat islam yang melaksanakan puasa setelah Ramadan, yaitu puasa Syawal.

Bagi Wali Kota Mataram perayaan Lebaran Topat, terutama di Pulau Lombok, sangat kental dengan nilai-nilai adat, budaya, dan ibadah. Dimana nilai-nilai tersebut sangat berhubungan erat dengan nilai-nilai islami yang telah menjadi keyakinan utama di Pulau Lombok.

Ahyar sendiri menerangkan bahwa Pemkot Mataram akan menggelar perayaan Lebaran Topat dengan menggelar zikir dan doa, serta sarapan bersama degan menu tradisional di Musala Siti Aisyah Kantor Wali Kota Mataram. Setelah itu, perayaan akan dipusatkan di dua titik, yaitu di Makam Loang Baloq di Kecamatan Sekarbela dan Makam Bintaro di Kecamatan Ampenan yang dianggap sebagai dua makam keramat di Kota Mataram.

“Mari semarakkan Lebaran Topat untuk melestarikan tradisi dan budaya Islami yang tidak ada di daerah-daerah lain,” ujar Ahyar, Jumat (07/06/2019) di Mataram.

Nilai-nilai adat, budaya, dan ibadah yang dimaksud Ahyar sendiri adalah pemotongan “topat agung tumpang telu” yang didahului dengan ziarah ke makam-makam keramat, diantaranya Makam Loang Baloq dan Makam Bintaro.

Ziarah tersebut ditujukan untuk mengingat jasa-jasa para solihin, tokoh dan mubaliq besar Islam yang telah berperan dalam membangun dan mendorong iman serta ketakwaan sesama umat islam.

Selain itu, ada juga tradisi slakaran, zikir, serta ngurisan (mencukur rambut bayi, Red) yang ditujukan untuk mengambil berkah dari ritual di Makam Loang Baloq yang merupakan makam seorang Ulama besar bernama Syekh Raden Gaos Abdul Razak. Masing-masing tradisi tersebut mewarnai perayaan Lebaran Topat setiap tahunnya.

“Zikir, selakaran dan zirah makam memiliki nilai-nilai yang disunahkan. Karenanya pemerintah kota ikut bersama menggerakkan nafas dan roh budaya yang tidak boleh diremehkan,” pungkas Ahyar.