Mataram (Inside Lombok) – Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram memantau keselamatan 238 Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal daerah tersebut yang masih berada di sejumlah negara Timur Tengah di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Koordinasi dilakukan dengan instansi terkait untuk memastikan kondisi para PMI yang tersebar di beberapa negara kawasan tersebut.
Asisten II Setda Kota Mataram, Miftahurrahman, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia guna memperoleh informasi terkini mengenai kondisi PMI. “Kami akan terus berkoordinasi secara aktif dengan Pemerintah Provinsi dan BP3MI NTB untuk mendapatkan update harian mengenai kondisi warga kita di sana,” katanya, Senin (2/3/2026) pagi.
Berdasarkan data resmi, sebanyak 199 PMI asal Mataram berada di Arab Saudi, 33 orang di Uni Emirat Arab, 4 orang di Kuwait, dan 2 orang di Bahrain. Sejumlah wilayah tersebut dilaporkan terdampak ketegangan, termasuk kawasan Teluk yang menjadi lokasi aset strategis dan fasilitas umum.
Pemkot Mataram mengakui belum menerima laporan rinci terkait kondisi kesehatan maupun keamanan masing-masing PMI. Namun, langkah preventif dilakukan dengan memastikan data by name by address akurat untuk memudahkan evakuasi jika situasi memburuk, serta membuka jalur komunikasi dengan keluarga PMI di Mataram.
Selain itu, Pemkot Mataram menyiapkan skema kontinjensi bersama pemerintah pusat dan BP2MI guna mengantisipasi perkembangan situasi. Hingga saat ini, pemantauan dan koordinasi lintas instansi terus dilakukan untuk memastikan keselamatan PMI asal Kota Mataram.

