Lombok Utara (Inside Lombok) – Kabupaten Lombok Utara (KLU) masih mencatat angka stunting sebesar 13,74 persen pada Januari 2026, menjadikannya salah satu daerah dengan prevalensi tinggi di NTB. Berbagai program telah dilakukan, namun perubahan perilaku masyarakat dinilai belum optimal, sehingga pelatihan komunikasi digelar pada 21–23 April 2026 untuk mendorong percepatan penurunan stunting.
Tanoto Foundation bersama Yayasan Cipta melaksanakan Pelatihan Komunikasi Perubahan Perilaku untuk Percepatan Penurunan Stunting (P3S) selama tiga hari. Kegiatan ini melibatkan 40 kader dan tokoh masyarakat dari Desa Gumantar dan Desa Pemenang Timur, KLU. Pelatihan difokuskan pada penguatan metode komunikasi yang efektif dalam mendorong perubahan perilaku di tingkat masyarakat.
Pelatihan ini menekankan pendekatan komunikasi yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menggali kondisi, memahami hambatan, serta membangun kesadaran masyarakat. Fasilitator dari Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan Provinsi NTB, Mia Oktora, menyatakan pentingnya peran kader sebagai penghubung antara pemerintah dan masyarakat.
“Stunting di suatu desa itu ibarat kolam yang tenang. Kalau ingin ada perubahan, harus ada riak yang digerakkan. Di situlah kader berperan sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat,” kata Mia.
Menurut Mia, perubahan perilaku tidak cukup hanya menyasar kelompok utama seperti ibu hamil dan anak dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Lingkungan sekitar juga memiliki pengaruh besar terhadap keputusan keluarga.
“Yang perlu disentuh bukan hanya sasaran utama, tetapi juga keluarga, suami, tokoh masyarakat, hingga pengambil keputusan di desa. Karena keputusan dalam rumah tangga seringkali dipengaruhi oleh mereka,” ujarnya.
National Program Manager Yayasan Cipta, Naura Assyifa, menegaskan bahwa komunikasi menjadi faktor kunci dalam keberhasilan program penurunan stunting. “Perubahan perilaku tidak terjadi hanya karena informasi diberikan. Harus ada proses membangun kesadaran dan keterlibatan masyarakat agar pesan benar-benar dijalankan,” ujarnya.
Kepala Dinas Kesehatan KLU, dr. H. Lalu Bahrudin, menyebut pelatihan ini sebagai langkah strategis dalam memperkuat kapasitas kader. Ia berharap kemampuan komunikasi yang lebih baik dapat meningkatkan efektivitas penyampaian pesan kepada masyarakat serta mendorong perubahan yang berkelanjutan.
Pelatihan ini menegaskan bahwa upaya penurunan stunting tidak hanya bergantung pada ketersediaan program dan gizi, tetapi juga pada efektivitas penyampaian pesan edukasi agar dapat diterima dan diterapkan oleh masyarakat.

