Lombok Barat (Inside Lombok) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kediri mengimbau masyarakat mewaspadai potensi cuaca ekstrem dan angin kencang yang diperkirakan terjadi di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam beberapa hari ke depan. Kondisi tersebut dipengaruhi dinamika atmosfer yang saat ini menunjukkan aktivitas signifikan di sekitar wilayah NTB.
Ketua Tim Data dan Analisis Stasiun Klimatologi NTB, Bastian Andarino, mengatakan peningkatan potensi cuaca ekstrem dipicu oleh beberapa indikator atmosfer, salah satunya kemunculan bibit Siklon Tropis ‘90S’ di Samudra Hindia sebelah selatan Pulau Jawa dan bibit Siklon Tropis ‘93S’ di Samudra Hindia sebelah barat Australia.
“Saat ini dinamika atmosfer menunjukkan aktivitas yang signifikan di sekitar wilayah NTB,” ujar Bastian saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.
Selain itu, kondisi cuaca juga dipengaruhi oleh aktifnya gelombang atmosfer seperti Madden Julian Oscillation (MJO), Low Frequency, dan Kelvin. Ia menjelaskan terdapat perlambatan kecepatan angin di sekitar wilayah NTB serta labilitas atmosfer yang kuat sehingga mendorong pembentukan awan hujan secara masif dan meningkatkan kelembaban udara pada berbagai lapisan ketinggian.
“Terutama fenomena angin kencang ini, sebagian besar dipengaruhi oleh faktor adanya bibit Siklon Tropis ‘90s’ di Samudra Hindia sebelah selatan pulau Jawa dan Bibit Siklon Tropis ‘93s’ di Samudra Hindia sebelah barat Australia ini,” terangnya.
Bastian menyebut kecepatan angin yang biasanya berkisar 30–35 km/jam kini meningkat menjadi sekitar 55–60 km/jam di beberapa wilayah NTB. Kondisi ini juga sejalan dengan laporan masyarakat mengenai terjadinya angin kencang dalam beberapa hari terakhir.
“Untuk potensi cuaca ekstrem ini diprediksi akan bertahan sampai dengan hilangnya bibit siklon tropis yang terdapat di Selat wilayah NTB. Paling tidak dalam 3 hari ke depan fenomena ini masih ada,” tegasnya.
BMKG mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan. Warga di wilayah pesisir juga diminta mewaspadai potensi peningkatan tinggi gelombang yang dapat memicu banjir rob dan mengganggu aktivitas nelayan.
“Terkait fenomena angin kencang, perlu diwaspadai potensi atap-atap yang terbang tertiup angin, serta pohon-pohon tua dan baliho yang bisa saja rubuh. Masyarakat agar memperhatikan tempat-tempat tersebut,” pesan Bastian.

