Mataram (Inside Lombok) – Kertas bekas tidak lagi dilihat menjadi sampah murahan, setidaknya begitulah yang tampak di Festival Jakarta Art Paper. Selama festival yang mengangkat lagi nilai kertas ke khalayak ramai ini, para seniman yang terlihat melihat dan memperlakukan kertas sebagai sesuatu yang memiliki nilai jual yang begitu tinggi.
Festival kertas yang pertama kali digelar itu memberikan pemahaman kepada pengunjung, bahwa kertas tidak hanya sekali pakai, atau hanya sebagai bungkus gorengan atau kacang rebus. Kertas saat ini tidak lagi menjadi sampah yang hanya dijual dengan harga murah, melainkan mulai dilirik oleh para seniman. Bahkan nilai jual seni dari kertas sangat mahal dan bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Stan pameran yang ada di Festival Jakarta Art Paper sangat meriah. Berbagai jenis karya seniman di Indonesia meramaikan event tersebut. Meski baru pertama kali di gelar, sebanyak 28 galeri terlibat, 22 dari Indonesia dan 6 dari negara di Asia.
Karya-karya seni baik itu lukisan hingga patung dari kertas berderet memenuhi lokasi pameran. Ketika memasuki area pameran, decak kagum dari para pengunjung pun terdengar. Namun tidak sedikit juga yang bertanya tentang konsep dari kegiatan tersebut. Program ini pun kemudian menjabarkan, bahwa penggunaan kertas sekali pakai saat ini telah mengalami pergeseran paradigm di dunia seni rupa. Kertas yang sebelumnya merupakan material yang dianggap remeh justru memiliki daya tarik karena karakteristik dari kertas itu sendiri, dan yang terpenting adalah kertas membawa narasi tentang keberlanjutan.

Penggunaan material kertas memiliki kedekatan dengan isu lingkungan. Kertas yang dulu teronggok berdebu di lapak pemulung, kini bersinar di bawah lampu sorot pameran dengan harga yang cukup fantastic. Lukisan yang identik dengan ukuran besar, misalnya, kini bisa terlihat lebih sederhana dan indah jika menggunakan kertas. Aspek penggunaan material ini-lah yang menjadikan nilai jual kertas lebih menjanjikan.
Manager Komunikasi Jakarta Art Paper, Adinda mengatakan pemilihan tema dari kertas ini karena kertas sudah mulai diminati sebagai salah satu bahan karya seni. Bahkan karya seni dari kertas juga sudah mulai banyak muncul di beberapa negara. “Banyak yang sudah memamerkan seni khusus dari kertas. Jadi kami merasa penting,” katanya.
Salah satu tantangan yang dihadapi yaitu berusaha mengenalkan kepada masyarakat Jakarta Art Paper. Lewat pelaksanaan festival selama empat hari, jumlah pengunjung mencapai ribuan orang. Bahkan tidak sedikit juga dari para pengunjung yang membeli karya-karya tersebut.
Salah satu seniman yang meramaikan booth Jakarta Art Paper adalah Dedi Singgih. Melalui karya tiga dimensinya, ia menggambarkan luka bumi yang marak terjadi saat ini. Karya ini terinspirasi dari fenomena nomor cincin pohon. Dalam dunia botani lingkaran tahun pada batang pohon bukan hanya penanda usia melainkan saksi sejarah perubahan iklim. “Ini jadi pengingat keras akan kondisi lingkungan yang semakin memburuk baik skala global maupun local di Indonesia,” katanya.
Lewat tumpukan kertas yang menyerupai potongan batang pohon ini, seniman yang saat ini tinggal di Pulau Bali menyoroti prilaku destruktif manusia terhadap tempat tinggalnya. “Melalui karya ini mengajak untuk membangun empati terhadap alam,” katanya. Dedi juga menjelaskan karya seni yang ikut dipamerkan menjadi kritik sosial, di mana bencana alam yang terjadi merupakan konsekuensi langsung perlakukan buruk manusia terhadap lingkungan.
Tidak jauh berbeda, penggunaan material kertas sebagai karya seni nyata juga bukan hal yang baru bagi Theo Setiadi Suteja. Seniman asal Pulau Bali yang sejak 2010 silam memutuskan untuk tinggal di Lombok, tepatnya di Kecamatan Ampenan, Kota Mataram ini telah menyulap 30 pesen rumahnya menjadi bangun an berbahan kertas. Hal itu dilakukan semata-mata atas kecintaannya pada kertas sebagai material.

Jika mendatangi rumah Theo, tidak asing melihat beberapa fasilitas seperti kursi, meja, hingga tiang penyangga terbuat dari kertas. Apa yang dilakukannya pun disebut menjadi bagian dari cara mencintai lingkungan. “Saya ini aktivis lingkungan dan peduli dengan kondisi bumi. Bangunan rumah saat tidak ada di Indonesia, tidak ada di dunia,” katanya.
Kesenian dari kertas yang selama ini digeluti nyatanya menarik minta masyarakat, sekolah, hingga warga negara asing untuk ikut belajar. “Di sini kita jadikan tempat kegiatan bagi masyarakat,” katanya.
Meski ada juga yang khawatir bangunan yang dibuat Theo rawan kebakaran karena terbuat dari kertas, ia menegaskan, setelah melalui proses pengolahan kerajinan dari kertas sulit terbakar. “Kita coba ya sambil mencoba bakar batako yang terbuat dari kertas namun sama sekali tidak terbakar,” ungkapnya.
Karya seni yang dibuat dari kertas ini juga bagian dari upaya menjaga kebersihan lingkungan. Bahkan salah satu kelebihan karya dari kertas adalah tahan lama. Pasalnya, sebelum menjadi sebuah karya yang indah, harus melalui proses pengolahan terlebih dahulu. “Kertas ini kita hancurkan direndam, dan dicampurkan dengan lem dan kemudian kita bentuk. Masing-masing karya membutuhkan waktu yang berbeda-beda,” tuturnya.
Saat ini Theo masih menyimpan dua buah kursi yang terbuat dari kertas. Karya seni yang menurutnya sangat indah dan memiliki nilai seni yang tinggi. Bahkan kursi tersebut katanya bisa menahan bobot hingga 300 ton.
Kursi dengan corak bintang dan memiliki tempat duduk sedikit cekung itu, juga pernah diduduki oleh para pimpinan daerah di NTB seperti Lalu Gita Ariadi yang pernah menjabat Plt. Gubernur NTB dan Sekretaris Daerah NTB, hingga Wakil Gubernur NTB periode 2018-2023, Sitti Rohmi Djalillah. “Ini ada dua kursi. Kalau ada kolektor yang berminta saya lepas di harga Rp1 miliar,” katanya.

