29.5 C
Mataram
Senin, 16 Maret 2026
BerandaEventMuktamar XXXII IDI, Momentum Perkuat Kesejawatan dan Profesionalisme Dokter

Muktamar XXXII IDI, Momentum Perkuat Kesejawatan dan Profesionalisme Dokter

Mataram (Inside Lombok) – Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Dr. dr. Mohamad Adib Khumaidi, Sp.OT, menegaskan bahwa keberadaan organisasi profesi seperti IDI tetap relevan dan sangat dibutuhkan. Dengan begitu, mengajak seluruh anggota IDI untuk terus memperkuat nilai-nilai kesejawatan yang tertanam dalam Sumpah Dokter sebagai modal utama menghadapi tantangan masa depan.

Hal tersebut disampaikan dr. Adib dalam sambutannya saat Pembukaan Muktamar XXXII Ikatan Dokter Indonesia, yang berlangsung di Hotel Lombok Raya, Kota Mataram, pada Kamis (13/02/2025).

“IDI lahir bukan karena kepentingan kelompok, melainkan karena kepentingan rakyat Indonesia. Sejarah panjang organisasi ini, sejak 1911 hingga menjadi satu kesatuan pada 1950, membuktikan bahwa IDI memiliki akar kuat dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, dr. Adib menyoroti pentingnya transformasi organisasi melalui semangat IDI Reborn. Dengan fokus pada penguatan internal, revitalisasi, dan komitmen perubahan. “Mari kita bersama-sama menciptakan resolusi perubahan demi IDI yang lebih baik, demi bangsa, rakyat, dan anggota,” tambahnya.

Dalam menghadapi berbagai tantangan eksternal maupun internal, PB IDI berkomitmen menjadi organisasi yang lebih profesional dan modern melalui program-program strategis yang komprehensif. dr. Adib juga mengingatkan seluruh anggota agar tidak terjebak dalam konflik internal yang dapat menghambat kemajuan organisasi.

“Seperti kata Charles Darwin, yang bertahan bukanlah yang terkuat atau terpintar, melainkan yang paling mampu beradaptasi. IDI harus menjadi institusi yang durable dan infinite, mampu bertahan menghadapi tantangan zaman,” tegasnya.

dr. Adib mengutip pernyataan Ketua IDI Wilayah Aceh sebagai pengingat bahwa organisasi ini harus terus berkarya dan berperan aktif. “IDI harus berkarya, bukan sekadar bergaya; berperan, bukan baperan, maju, bukan malu; serta aktif, tapi tidak reaktif,” tutupnya. (azm)

- Advertisement -

Berita Populer