43 Pekerja Migran NTB Meninggal di Luar Negeri Tahun Ini, Lotim Terbanyak

Mataram (Inside Lombok) – Data Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) wilayah Mataram, Nusa Tenggara Barat mencatat sejak 1 Januari hingga 30 Juni 2020, jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal NTB yang meninggal dunia di luar negeri sebanyak 43 orang.

Dari data itu, PMI meninggal dunia terbanyak berasal dari Kabupaten Lombok Timur 17 orang, disusul Kabupaten Lombok Tengah 12 orang, Lombok Barat 5 orang, Kabupaten Bima 5 orang, serta Kota Bima dan Dompu masing-masing 1 orang.

“Banyakan dari Malaysia, ya. Tidak semuanya (legal). Ada yang sesuai prosedur, ada yang unprosedural,” kata Kepala BP2MI Wilayah Mataram NTB, Abri Danar Prabawa, Rabu (15/7/2020).

Lebih lanjut, merujuk data BP2MI, penyebab meninggalnya para Pekerja Migran NTB itu dikarenakan sejumlah faktor, paling banyak disebabkan sakit, kecelakaan kerja, kecelakaan lalu lintas dan perkelahian.

Ia menjelaskan, di tengah pandemi Covid-19, proses pemulangan jenazah Pekerja Migran Indonesia memakan waktu yang lebih lama, karena sangat bergantung pada jadwal penerbangan.

“Flight-nya kan tidak banyak sekarang, (misalnya) yang dulunya 10 mungkin sekarang cuma 1,” lanjutnya.

Meski begitu, selama masa pandemi Covid-19, tak ada kendala yang cukup berarti dalam proses pemulangan jenazah, sebab semuanya sudah mempunyai protokol tersendiri.

“Perwakilan kita (di luar negeri) menjadwalkan pemulangannya itu dengan melihat jadwal penerbangannya, kemudian dipastikan dulu ini meninggalnya kenapa, terus dilihat apakah mereka ini terbebas dari Covid-19,” lanjutnya.

Ia tak memungkiri kemungkinan adanya Pekerja Migran Indonesia yang meninggal dunia di luar negeri disebabkan Covid-19, namun sejauh ini BP2MI Wilayah Mataram belum menerima laporan PMI NTB yang meninggal dunia karena Covid-19.

“Kalau jumlahnya berapa dan di mana kita nggak tahu, mungkin ada tapi saya belum terima laporan, entah ada orang NTB atau tidak kita belum terima. Kalau bicara penanganan di luar negeri itu kan sudah menjadi ranahnya perwakilan kita di sana, misalnya seandainya ada pekerja migran kita yang terkena covid, penanganannya pasti disesuaikan protokol yang ada di negara mana dia bekerja,” jelasnya.