Cerita Atlet PON Loteng: Pulang Bawa Medali, Uang Pelatda Tidak Diberi

Aksi unjuk rasa di Kantor Bupati Lombok Tengah, Kamis (7/10/2021). (Inside Lombok/Ida Rosanti)

Lombok Tengah (Inside Lombok) –Sungguh miris nasib sejumlah atlet Lombok Tengah (Loteng) yang bertanding di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua. Di antaranya tiga orang atlet cabang olahraga (cabor) futsal yang berhasil menyumbangkan medali perunggu bagi NTB pada pertandingan melawan Jawa Timur pada 3 Oktober lalu.

Bukannya menikmati hasil jerih payah mereka, ketiga atlet tersebut justru terpaksa mengikuti aksi demonstrasi bersama Koalisi Masyarakat Peduli Olahraga (Kompol) yang digelar Kamis (7/10) di Kantor Bupati dan Kantor Koni Lombok Tengah.

“Kami ikut demo untuk meminta pemberian uang Pelatda (pemusatan latihan daerah). Ketua KONI janji akan berikan sebelum keberangkatan (ke Papua), tapi sampai pulang tidak juga kami terima,” ujar salah satu atlet, Makrifatul Amri di sela-sela aksi demo.

Disebutkan, total uang Pelatda yang belum diberikan mencapai Rp90 juta untuk sembilan orang atlet yang berangkat ke Papua. Uang tersebut merupakan akumulasi biaya transport untuk enam bulan selama menjalani pelatihan di tahun 2021. Di mana masing-masing atlet berhak mendapatkan dana Pelatda Rp1,5 juta per bulan.

Pihak KONI sudah menjanjikan akan memberikan hak para atlet tersebut sebelum keberangkatan ke Papua. Namun sampai sekarang uang itu tidak kunjung diberikan, hingga membuat atlet terpaksa menggelar demonstrasi.

“Pada malam keberangkatan, kami hanya mendapatkan uang saku dari Pemda sebesar Rp4,5 juta. Saat kami tanya melalui grup atlet, kami diblokir,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua Kompol Lombok Tengah, Opan Cobok meminta pihak KONI lebih memperhatikan kesejahteraan para atlet di Lombok Tengah. Pasalnya, mereka telah mengharumkan nama daerah.

Tetapi fakta yang terjadi justru sebaliknya; pengurus KONI dinilai kompak tidak memberikan uang perlengkapan dan juga uang saku kepada atlet yang bertanding di PON XX Papua. Padahal, salah satu atlet yang ikut demo tersebut, yakni Wildan, merupakan kiper timnas futsal.

“Atas hal ini kami minta kepada pemerintah daerah untuk membekukan pengurus KONI ini,” katanya.

Kabid Olahraga Dinas Pemuda dan Olahraga Lombok Tengah, Lalu Hilim saat menemui massa aksi menjelaskan uang Pelatda diberikan selama dua tahun, yakni periode 2020 dan 2021.

Untuk 2020 sudah selesai diberikan kepada atlet dengan ditransfer langsung ke rekening masing-masing. Adapun di 2021, penyalurannya dilakukan melalui KONI. Pihaknya pun sudah menyerahkan anggaran sebesar Rp100 juta lebih kepada KONI untuk uang Pelatda tersebut.

“Kami sudah mengupayakan mediasi antara KONI dan 10 atlet mengenai hal ini bulan September lalu. Saat itu kami tegaskan uang ini harus dibayar sebelum berangkat ke Papua. Saat itu Ketua KONI katakan siap, tapi ternyata belum sampai sekarang,” sesalnya.

Dia memastikan semua uang Pelatda sudah diserahkan ke KONI sepenuhnya. Dan Pemda akan meminta laporan pertanggungjawaban terkait penggunaan anggaran tersebut pada akhir tahun anggaran.

Sementara itu, Bendahara KONI Lombok Tengah, Fatah berdalih kalau dana atlet tersebut akan diberikan sesudah atlet pulang dari Papua dengan menggelar acara seremonial. “Itu sebenarnya akan kami agendakan untuk diberikan dengan adanya acara seremonial,” katanya.