Hore! Sekarang Mobil Listrik “Made in NTB” Sudah Bisa Dipesan

Dua dari empat jenis mobil listrik yang diproduksi di STIP NTB dengan fungsi dan kegunaan yang berbeda beda, Banyumulek. Senin (24/08/2020). (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur'ani)

Lombok Barat (Inside Lombok) – Sains Techno Industri Park (STIP) NTB yang berlokasi di Banyumulek ini ditargetkan dapat memproduksi 2.130 unit mobil listrik hingga akhir tahun mendatang. Bertepatan dengan puncak perayaan HUT provinsi NTB, 17 Desember 2020.

Jumlah tersebut adalah target yang harus dipenuhi karena sejauh ini, dana produksi untuk mobil listrik tersebut sudah dianggarkan. Karena pesanan untuk mobil listrik ini banyak datang dari institusi pemerintahan.

Dalam proses produksinya, STIP bertindak sebagai fasilitator yang memfasilitasi IKM-IKM pemula, serta membantu meningkatkan kapasitas IKM yang sudah ada.

“Sekarang di NTB ini kan produk-produk dan inovasi baru itu tumbuh seperti jamur karena berada di iklim yang tepat” kata Muhammad Khairul Ihwan, selaku kepala UPTD STIP NTB, di Banyumulek, Senin (24/08/2020).

Sehingga, sambungnya, IKM-IKM ini perlu digandeng untuk semakin berinovasi. Selain berhasil memproduksi motor listrik, STIP ini pun memfasilitasi para IKM dan berhasil memproduksi mobil listrik yang saat ini, sudah memiliki 4 jenis.

Keempat jenis mobil listrik ini memiliki fungsi yang berbeda-beda. Sehingga STIP menjembatani untuk bisa bekerjasama dengan dinas yang sekiranya dapat terbantu oleh kehadiran mobil listrik ini.

“Produk mobil listrik ini kami mitrakan dengan dinas yang membutuhkan angkutan yang sesuai dengan kebutuhan mereka” sebutnya.

Untuk saat ini, ada berbagai macam pesanan mobil listrik yang diterima STIP. “Banyak pesanan seperti mobil golf dari dinas pariwisata, kemudian mobil delivery dari dinas ketahanan pangan, yang bisa digunakan untuk mengantarkan beras dan muat hingga 400 kg beras dan pesanan yang paling banyak itu mobil yang untuk mengangkut sampah” ungkapnya.

Untuk saat ini terkait pemasarannya, M. Khairul Ikhwan menyebutkan, bahwa STIP masih berfokus untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, terutama untuk dinas yang kebutuhannya sesuai dengan produk yang dihasilkan.

“Jika sudah mampu memenuhi pasar dalam daerah, baru kemudian kami akan mapping untuk pemasaran ke luar daerah” pungkasnya.

Dalam hal ini, pemerintah sebagai fasilitator berupaya untuk membantu produk-produk IKM yang dinaungi STIP ini supaya dapat segera dijual keluar.

“Ini kita sedang mengupayakan terkait regulasi seperti apa yang harus mereka penuhi, apa yang bisa kami lakukan untuk bisa membantu pemenuhan regulasi itu. Jadi pemerintah disini fokus sebagai fasilitator” jelasnya.

Berdasarkan data terakhir, diakuinya, untuk saat ini sudah ada 19 unit pesanan mobil listrik yang dipesan oleh dinas, baik itu Dinas Ketahanan Pangan NTB, dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), hingga Dinas Koperasi.

“Pada waktu 17 Agustus kemarin pas pak Gubernur launching itu ada 550 unit mesin yang dipabrikasi dalam waktu 3 minggu dengan 61 IKM yang terlibat” bebernya.

Dengan adanya produksi ini juga telah membantu untuk menghidupkan dan membantu perkembangan empat sentra yang ada di NTB. Seperti sentra logam Kotaraja, sentra logam Babakan, sentra Getap di Mataram, serta sentra Brembeng di Lombok Tengah, tandas UPTD STIP NTB ini.

“Sehingga di masa pandemi covid-19 ini, kita juga bisa bantu hidupkan sentra-sentra tersebut, sehingga bisa terpenuhi 500 unit mesin yang sudah dilaunching pak gubernur kemarin” tandasnya.

Terkait dengan daya dari mobil listrik tersebut, dijelaskan oleh Irwan Arditya pembuat mobil listrik tersebut, apabila daya dari mobil listri tersebut benar-benar kosong. Maka itu perlu dicharging sekitar 4-5 jam dan itu akan bisa digunakan untuk jarak 50-70 kilo meter.

“Kita optimistis bisa memenuhi target produksi yang susah dipatok kepada kami, karena saat ini pun dalam waktu sehari kami sudah bisa memproduksi 1 unit mobil listrik ini,” Tutup Irwan Arditya.