Kearifan Lokal di NTB untuk Pengurangan Risiko Bencana

149

Letak geografis Indonesia yang berada di lingkaran cincin api membuatnya sebagai negara yang rawan bencana alam. Begitu pula dengan kondisi kerawanan wilayah di NTB terhadap adanya ancaman bencana tersebut.

Selain memanfaatkan teknologi informasi, upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana juga sangat perlu untuk melibatkan partisipasi masyarakat dengan mendayagunakan khasanah pengetahuan atau kearifan lokal yang dimilikinya untuk menunjang upaya mitigasi bencana.

Kearifan lokal terkait kebencanaan boleh dibilang merupakan langkah mitigasi bencana yang paling efektif. Kearifan lokal masyarakat yang mencintai dan menjaga lingkungannya menjadi salah satu cara pencegahan bencana yang dinilai ampuh.

Sebagaimana kita pahami bersama bahwa mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Sementara kearifan lokal adalah kekayaan budaya setempat yang mengandung kebijakan hidup, pandangan hidup yang mengakomodasi kebijakan dan kearifan hidup. Kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tatanan kehidupan masyarakat untuk melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari.

Menariknya, di sisi lain, apabila dikaitkan dengan khasanah lokal yang dimiliki daerah NTB, ditemukan satu pengetahuan lokal yang dijadikan rujukan penelitian oleh para ilmuwan dunia. Hasil riset yang dilakukan ilmuwan Prancis, Lavigne bersama timnya menyebut dampak global letusan Gunung Samalas yang terjadi pada tahun 1257 silam.

Letusan Gunung Samalas yang belakangan diketahui letaknya ternyata berdampingan dengan Gunung Rinjani di Lombok itu mulai terasa dampaknya pada 1258 hingga 1259 di Eropa Barat. Krisis yang terjadi di rentang tahun itu berupa gagal panen, kelaparan, hujan hampir sepanjang tahun, gangguan cuaca dan perubahan iklim.

Salah satu yang dijadikan data petunjuk penting dalam penelitian yang dilakukan oleh Lavigne adalah Babad Lombok, yang di dalam suatu bagiannya menceritakan tentang dampak letusan dari Gunung Samalas.

Namun, di luar itu, patut untuk dipertimbangkan oleh kita bahwa peristiwa dan dampak letusan Samalas yang diceritakan di dalam Babad Lombok tersebut bisa dijadikan sebagai khasanah pengetahuan lokal yang mengandung nilai-nilai kearifan.

Tradisi Lisan

Tradisi lisan seperti pembacaan hikayat atau bekayat yang dimiliki masyarakat Lombok bisa dimanfaatkan sebagai medium penyampaian pesan atau diseminasi tentang kisah-kisah penting terkait kebencanaan yang terjadi di masa lalu. Bentuk story telling yang bisa dijadikan contoh dan praktek baik, misalnya tradisi yang ada di masyarakat Simeulue yang menjadikan kisah Smong sebagai literasi kebencanaan.

Alfi Rahman di dalam artikelnya yang termuat di The Conversation (23/10/2018), menjelaskan tentang Smong di dalam tradisi tutur Nafi-nafi yang dimiliki masyarakat Simeulue. Nafi-nafi berkisah tentang kejadian tsunami yang terjadi pada tahun 1907 di daerah Simeulue. Kisah dalam Smong ini menceritakan secara runut kejadian tsunami, yaitu saat terjadi gempa bumi besar, air laut surut, dan air laut naik ke darat.

Kisah Smong, kata Alfi Rahman juga menceritakan tindakan yang perlu dilakukan, yaitu segera menjauhi pantai atau menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi seperti bukit. Di samping itu, di dalam kisah Smong, masyarakat dianjurkan untuk membekali diri dengan membawa beberapa barang seperti beras, gula, garam, korek api, baju dll. Bekal tersebut diperlukan selama di tempat pengungsian sementara.

Smong artinya ombak yang bergulung begitu besar, tapi kearifan lokal smong itu jadi warisan tutur kata dan nasihat untuk anak-cucu masyarakat Simeulue. Jika terjadi gempa yang besar yang kekuatannya lebih dari biasa, maka masyarakat harus keluar dari rumahnya dan mencari tempat yang tinggi. Kisah Smong dalam Nafi-nafi tersebut mengandung pula anjuran untuk mendiseminasikan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Simeulue kepada generasi selanjutnya.

Di luar keberadaan smong yang dituturkan para leluhur di dalam tradisi Nafi-nafi, kisahnya pun kerap dipentaskan oleh para penandong atau sebutan untuk penyair Simeulue yang mempraktikkan budaya nandong. Nandong kerap ditampilkan dengan biola serta alat musik kendang atau yang memiliki arti sama dengan gendang.

Dari sini kita sadari bahwa upaya-upaya dalam mitigasi dan pengurangan risiko bencana di suatu daerah tidak melulu mesti memanfaatkan teknologi yang canggih. Nilai kearifan lokal yang hidup di masyarakat juga bisa menunjang mitigasi bencana.

Diseminasi Melalui Lagu

Contoh lain, dari adanya pesan moral untuk menjaga alam ini juga termaktub di syair sebuah lagu daerah yang cukup terkenal di NTB, terutama di daerah Bima dan Dompu. Lagu itu berjudul Nggahi Rawi Pahu yang diciptakan oleh Jhony Keke Balukea.

Berikut ini teks syair lagu Nggahi Rawi Pahu yang dimaksud dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

“Tio pu lao na
Nggahi rawi pahu
Kau na ngaha
Aina ngoho
Doro ra wuba
Fu’u ba oi
Dompo ra fati
Na wa’ura mango
Wa’ura kola
Ngoho ba dou
Maju ndere kala
Na waura mbora
Mbere ma mai
Ti wau di tapa
Makalino rasa
Dana ra dembi”

“Lihatlah wujud nyata
Nggahi rawi pahu (semboyan ‘selaras perkataan dengan perbuatan’)
Dipersilakan untuk mencari nafkah
Tanpa harus menebang hutan
Gunung dan hutan
Sumber mata air
Dipotong dan ditebang
Kini telah mengering
(Hutan) telah gundul
Ditebang oleh orang-orang
Rusa berbulu merah
Kini telah menghilang
Banjir yang datang
Tak mampu dibendung
Yang menggenangi perkampungan
Persawahan dan perbukitan”

Lagu Nggahi Rawi Pahu itu diciptakan sekitar tahun 1980-an. Jika melihat tahun penciptaannya bahwa jauh hari syair lagu ini telah mengingatkan tentang dampak kerusakan lingkungan dari adanya aktivitas perambahan liar dan alih fungsi lahan yang masif terjadi.

Lagu Nggahi Rawi Pahu bisa jadi sebagai peringatan bagi manusia agar senantiasa menjaga alam dan tidak membuka lahan dengan cara menebang pohon yang mengakibatkan kerusakan ekologis.

Padahal, rimbunnya pepohonan bisa menjadi peredam air hujan yang jatuh ke permukaan tanah, sehingga tidak mengakibatkan erosi tanah. Lereng bukit yang miring pada dasarnya merupakan sumber air bagi wilayah yang berada di bawahnya dan sangat rentan jika ada gangguan atau perubahan fungsi lahan.

Apabila pohon itu hilang karena perambahan liar, maka yang terjadi adalah air hujan yang deras jatuh ke tanah tanpa ada peredam dan langsung menghujam ke permukaan tanah. Kondisi itu tentu mengakibatkan tanah yang terkena air hujan akan terburai, sehingga yang terjadi adalah erosi atau pengikisan tanah.

Masih lekat dalam ingatan, banjir bandang yang pernah terjadi di Bima pada akhir bulan Desember 2016. Disusul gempa bumi yang berpusat di Lombok Utara pada tahun 2018 serta banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Gunungsari dan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat pada Desember 2021 yang lalu patut menjadi pelajaran sekaligus sebagai peringatan penting bagi kita semua.

Nah, di aras yang sama, salah satu dari implementasi program Membangun Ketangguhan Bencana dan Pemulihan Penghidupan Pasca Pandemi Covid-19, yang dikerjakan oleh konsorsium KONSEPSI NTB dan Mitra Samya atas dukungan dari SIAP SIAGA berupaya untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal terkait upaya dalam mitigasi dan pengurangan risiko bencana yang dimiliki komunitas dampingan yang ada di Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Tengah.(*)

c87b0884 bab1 40d2 9007 940cbc08eb0aHarianto Nukman, pernah bekerja sebagai guru honorer dan jurnalis. Saat ini bergiat di KONSEPSI NTB.