Komunitas Akarpohon Rilis Buku Kumpulan Puisi Iin Farliani

36
Iin Farliani saat perilisan buku Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi di Taman Budaya NTB (Inside Lombok/ist)

Mataram (Inside Lombok) – Komunitas Akarpohon Mataram merilis buku kumpulan puisi Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi karya Iin Farliani di Warjack, Taman Budaya NTB, Minggu (3/7). Program Rilis! Dari Komunitas Akarpohon Mataram merupakan ajang bagi penulis memperkenalkan buku baru yang diterbitkan.

Acara rilis buku kumpulan puisi Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi dibuka dengan penampilan pembacaan puisi oleh mahasiswi Fakultas Teknik Universitas Mataram, Wulan Eryana Sain yang membacakan puisi berjudul Aku Tak Datang Mengetuk Pintu. Sesaat setelah Wulan, pegiat teater Rizky Desima Ardira tampil membacakan puisi berjudul Memerahkan Bibir.

“Pada awalnya, saya merasa sangat tidak percaya diri manakala dianjurkan untuk menerbitkan buku puisi. Karena, puisi-puisi yang saya tulis dalam kurun waktu sejak 2013 hingga 2020 tidak tematik,” ungkap Iin,di Taman Budaya NTB.

Dahulu, Iin Farliani sempat berpikir puisi-puisi yang layak untuk dibukukan hanyalah puisi tematik. Namun, setelah menyerahkan puisi-puisinya kepada penyunting, Iin mendapati puisi-puisi yang ditulisnya memiliki benang merah tersendiri.

“Saya menyerahkan 200 puisi dan penyunting memilih untuk membukukan 50 puisi yang dinilai memiliki satu benang merah,” terang Iin.

Dokter sekaligus penyair, Liya Maulidianti turut memeriahkan acara rilis buku kumpulan puisi Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi dengan membacakan puisi berjudul Daun Mangga. Kemudian, peneliti sekaligus pegiat literasi, Dedy Ahmad Hermansyah pun ikut membacakan puisi berjudul Kau Irama, Aku Kata yang sekaligus menutup agenda rilis buku kumpulan puisi Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi.

“Menurut cerita penyunting, puisi-puisi yang saya kumpulkan mengalami tiga kali proses penyaringan sebelum diutuhkan menjadi buku. Puisi saya dinilai cukup sulit dikarenakan memiliki banyak subjek,” ujar Iin.

Setelah melewati proses penyuntingan selama satu bulan, Iin dan penyunting bersepakat untuk menerbitkan buku kumpulan puisi Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi.

Iin menerbitkan buku puisi dengan alasan agar mengutuhkan periode kepenulisan yang telah dimulainya sejak 2013. Menurut Iin, setiap periode kepenulisan, memiliki tingkat kematangan masing-masing.

“Daripada puisi-puisi yang telah ditulis menumpuk, saya kira perlu untuk mengumpulkannya menjadi sebuah buku kumpulan puisi yang utuh,” papar Iin.

Secara garis besar, buku kumpulan puisi Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi menggambarkan tentang tumbuh kembang seorang perempuan serta cara ia memahami dunia sekitar, yang meliputi ruang privat dan ruang sosial.

Iin berharap buku kumpulan puisi Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi menemui para pembacanya, terutama orang-orang yang ingin melihat dunia dari kacamata seorang penyair perempuan.

“Perempuan sering dinilai hanya mampu membahas hal-hal yang bersifat domestik. Sedangkan, buku kumpulan puisi Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi lebih menggambarkan hal-hal yang bersifat universal,” tutur Iin.

Sementara itu, Manajer Program Komunitas Akarpohon Mataram, Ilda Karwayu mengatakan program Rilis! mengadaptasi konsep penggarapan musik. Penggarapan musik cenderung rapi dan cukup efektif dalam menyebarkan karya-karya kepada para apresian. Hal tersebut, ditemukan setelah Komunitas Akarpohon melakukan refleksi mengenai keterbatasan penyebaran karya.

“Selain itu, konsep penggarapan musik memiliki rentang waktu cukup banyak untuk mengenalkan karya-karya yang telah dirilis,” ungkap Ilda.

Rilis!, Perayaan Buku, serta Tur Buku merupakan satu rangkaian program yang diinisiasi oleh Komunitas Akarpohon Mataram untuk menyebarluaskan distribusi buku-buku yang telah terbit. “Sehingga, ketika acara Perayaan Buku dihelat, pembaca dapat berdiskusi langsung dengan penulis dan pembahasan karena sudah datang ke acara Rilis!,” ujar Ilda.

Setelah Rilis! dan Perayaan Buku, Komunitas Akarpohon Mataram bakal melakukan Tur Buku di berbagai kabupaten di Pulau Lombok. Hal tersebut, diharapkan dapat menjawab fenomena buku-buku yang dihasilkan oleh penulis NTB jarang terbaca di daerah sendiri.

“Manajemen teknis acara dari program-program Komunitas Akarpohon Mataram yang cukup apik diharapkan dapat tertular ke berbagai komunitas di Mataram dan seluruh penjuru Pulau Lombok,” tutur Ilda.

Dari acara Rilis! Komunitas Akarpohon Mataram hendak menyasar apresian secara umum. Namun, secara politis, Komunitas Akarpohon Mataram ingin menyasar massa para penulis yang bukunya sedang dirilis.

“Lokasi gelaran Rilis! cenderung menyesuaikan dengan lokasi massa para penulis dan berbagai tempat umum. Kami ingin Komunitas Akarpohon Mataram bersifat inklusif serta tidak terafiliasi hanya pada satu tempat belaka,” tandas Ilda. Buku kumpulan puisi Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi dapat dipesan di penerbit Basabasi dan Kedai Buku Klandestin. (r)