Mempertanyakan Ulang Realitas Sosial Lewat Kumpulan Cerpen “Satu Keluarga Telah Lengkap” Karya Bulan Nurguna

78
Perayaan buku Satu Keluarga Telah Lengkap karya Bulan Nurguna (Inside Lombok/ist)

Mataram (Inside Lombok) – Daftar buku terbitan penulis NTB kembali bertambah. Kali ini Bulan Nurguna, penulis yang bermukim di Gunungsari, Lombok Barat meluncurkan buku kumpulan cerita pendek bertajuk “Satu Keluarga Telah Lengkap”.

Bulan yang tergabung dalam Komunitas Akarpohon Mataram pun menggelar Perayaan Buku “Satu Keluarga Telah Lengkap” pada Sabtu (24/9) kemarin di Gerobak Kopi Jalanan, Mataram.

Dibuka oleh Pembawa Acara, Tara Febriani Khaerunnisa, acara Perayaan Buku itu turut menghadirkan Bulan Nurguna selaku penulis buku, Puji Retno Hardiningtyas selaku pembahas buku, Ladies First selaku pengalihwahana, serta Eno Liska Walini selaku pemandu.

Pembahas Buku sekaligus Kepala Kantor Bahasa NTB, Puji Retno Hardiningtyas mengatakan dalam buku terbarunya, Bulan selalu mencoba mempertanyakan ulang realitas sosial yang mapan. Pertanyaan itu pun disiratkan dengan gaya yang sarkas.

“Hal yang pertama kali saya lakukan ketika membaca buku Satu Keluarga Telah Lengkap adalah menikmatinya terlebih dahulu,” ujar Retno.

Buku kumpulan cerpen Satu Keluarga Telah Lengkap, lanjut Retno, memiliki tiga tema besar. Antara lain kehidupan domestik dengan perspektif ekonomi, permasalahan sosial, serta pendidikan.

Menurutnya, meski hampir semua cerpen dalam buku memiliki aliran realis, ada sebagian lainnya yang mengusung tema surealis dan fantastik. Seluruh cerpen dalam buku Satu Keluarga Telah Lengkap, bagi Retno, sangat luar biasa. Terlebih ketika bagian akhir masing-masing cerpen.

“Cerpen-cerpen Bulan Nurguna membuat saya teringat akan Iwan Simatupang, Danarto, Putu Wijaya, Eka Kurniawan, serta Agus Noor,” papar Retno.

Sementara itu, Gitaris Ladies First, Mila Aprilia mengaku bangga dapat hadir dalam acara Perayaan Buku milik Komunitas Akarpohon Mataram. Sebab, menurutnya, orang-orang yang terlibat dalam Perayaan Buku Satu Keluarga Telah Lengkap adalah orang-orang yang hebat.

Diceritakan Mila, dalam proses alih wahana ia dan anggota Ladies First lainnya memilih cerpen “Kirana dan Ibunya” yang terhimpun dalam buku “Satu Keluarga Telah Lengkap”. Alasannya, cerpen itu memiliki isi dan isu yang sangat dekat dengan kehidupan para personel band yang mengusung genre musik pop-alternatif tersebut.

Kesulitan dalam mengalihwahanakan cerpen “Kirana dan Ibunya” terletak pada proses menentukan lirik serta melodi yang akan dijadikan sebuah lagu “Sebenarnya, kami tidak mengalami kendala teknis apapun selain hanya punya waktu yang singkat untuk mengalihwahanakan. Sebab, kami diberikan buku “Satu Keluarga Telah Lengkap” saat empat hari menjelang acara,” jelas Mila.

Setelah acara Perayaan Buku Satu Keluarga Telah Lengkap, Ladies First merasa tertantang untuk melakukan proses alih wahana kembali. Oleh karena itu, Ladies First berharap agar program yang bernuansa sama dengan Perayaan Buku juga turut dilakukan oleh komunitas-komunitas lain.

“Sebab, musik dan sastra memiliki hubungan yang sangat dekat,” tandas Mila.

Bulan Nurguna selaku penulis ke depan berharap bisa terus menghasilkan karya. Termasuk membuat cerpen-cerpen yang lebih bagus lagi ke depannya dengan genre yang semakin beragam.

“Saya menyukai hasil bacaan dan pemaparan penilik atas buku Satu Keluarga Telah Lengkap. Sebab, ketika penilik membahas, hasil bacaannya cukup dalam. Bahkan, penilik membahas per satu cerpen yang meliputi isi dan teknik-teknik yang dipakai,” ungkap Bulan.

Pada awalnya, Bulan belajar menulis cerpen secara serius di Komunitas Akarpohon Mataram sejak 1 Desember 2019. Sampai saat ini, Bulan telah menulis banyak cerpen hingga berhasil melahirkan buku Satu Keluarga Telah Lengkap.

“Sedari kecil, saya senang menulis, puisi, cerpen, novel. Kemudian, saya telah mengirim karya-karya tersebut ke Majalah Bobo dan masih banyak lagi. Namun tidak diterima,” cerita Bulan.

Ke depannya, Bulan mengharapkan agar acara dengan nuansa yang sama seperti Perayaan Buku milik Komunitas Akarpohon Mataram terus berkelanjutan. Menurut Bulan hal tersebut begitu penting untuk memajukan dunia sastra di NTB.

“Bukan hanya satu atau dua tahun belaka. Namun sampai jangka waktu yang panjang. Keberlanjutan tersebut mesti terus dijaga agar setiap sastrawan makin terpacu untuk terus maju dan tidak kalah oleh sastrawan lainnya,” pungkas Bulan. (r)