Mencengangkan, Sampah Medis Puskesmas Capai 100 Kilogram Perbulan

Mataram (Inside Lombok) – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr. Nurhandini Eka Dewi menjelaskan akan ada pembangunan pengolahan sampah medis di Lombok. Ini lantaran sampah medis yang semakin banyak. Apalagi satu puskesmas bisa menghasilkan 100 kilogram sampah perbulan.

Bahasan diskusi terakhir dengan investor belum sampai pada pemanfaatan sampah medis, akan tetapi pemisahan sampah medis dengan pengolahan sampah lain agar tidak disalahgunakan. Rencananya akan ditempatkan di sekitar Pelabuhan Lembar.

BUMD juga akan berperan pada tahap awal sebagai penyediaan dana transportasi. Saat ini, dana yang ada di BUMD terhitung cukup untuk digunakan agar rencana ini bisa berjalan.

“Kalau masuk saham BUMD tidak masalah karena ini termasuk bisnis yang menguntungkan” kata Gubernur NTB Dr. Zulkieflimansyah, Senin (29/10/2018).

Konsep keterlibatan BUMD terhadap penyediaan transportasi dimana sampah dari rumah sakit diangkut menuju tempat pengolahan harus membutuhkan mobil khusus tertutup.

Pengiriman sampah untuk Lombok saat ini adalah Rp32.000 per kilogram. Namun untuk Dompu sebesar Rp51.000 per kilogram dan jika pengolahan sampah ini dipusatkan di lombok, biayanya bisa diturunkan sekitar Rp21.000 hingga Rp25.000.

Artinya, dana yang selama ini terbuang untuk transportasi yang dikirim ke Surabaya bisa digunakan untuk NTB. Sampah medis yang diperoleh dari satu puskesmas dalam satu bulan bisa mencapai 100 kilogram, tergantung besar kecilnya sampah tersebut. Saat ini di NTB terdapat 169 puskesmas dan 33 rumah sakit.

“Puskesmas dan rumah sakit mengelola limbah medis B3 sesuai dengan standar kemudian menyimpannya sementara dan sesuai dengan perjanjian pihak ketiga selanjutnya akan dikirim ke surabaya untuk diolah” ujar Nurhandini.

Pembangunan pengolahan sampah medis ini rencananya akan dimulai tahun 2019 mendatang. Awalnya akan dilaksanakan tahun ini namun sempat tertunda karena gempa lombok yamg terjadi beberapa bulan yang lalu.

Selain itu, hasil pengolahan akan dijadikan arang karena produksinya masih sederhana dan tidak memerlukan biaya yang tinggi. (IL4)