Mengintip Usaha CEF Ciptakan Trash Trap, Meminimalisir Kiriman Sampah Sungai ke Pantai Labuhan Haji

209
Trash trap yang ada di salah satu sungai yang menuju pantai Labuhan Haji, Jumat (17/06/2022). (Inside Lombok/M.Deni Zarwandi)

Lombok Timur (Inside Lombok) – Membahas pantai Labuhan Haji sulit lepas dari pikiran bahwa pantainya yang dipenuhi sampah. Hal itu lantaran banyaknya sampah dari aliran sungai yang bermuara ke pantai.

Kondisi ini membuat sekelompok pemuda yang tergabung dalam Central Environmental & Fisheries (CEF) berinisiatif menciptakan alat penyaring sampah atau trash trap yang ditempatkan pada aliran sungai. Khususnya yang bermuara ke pantai Labuhan Haji.

Ketua CEF, Muslihaddin Aini mengatakan ia dan anggota komunitas yang lain merasa resah melihat pantai Labuan Haji yang selalu kotor oleh sampah kiriman dari sungai. Untuk itu sejak 2018 pihaknya mengkampanyekan anti sampah plastik serta setiap minggunya melakukan pembersihan di Pantai Labuan Haji. Sayang, hasilnya diakui masih nihil, sebab sampah masih banyak berserakan di pantai.

“Semua sudah kita lakukan, tapi hasilnya nol besar. Hanya segelintir orang yang peduli,” ucapnya pada awak media, Jumat (17/06).

IMG 20220618 WA0019 1

Dengan kepeduliannya, CEF mulai menggagas cara mengantisipasi sampah dari sungai sehingga terciptalah trash trap. Di mana alat tersebut dibuat dari tong plastik, jaring besi, dan kawat seling sebagai tali pengikat.

“Tak hanya bisa menyaring sampah di sungai, tapi trash trap ini juga bisa menjadi jembatan penyeberangan bagi pejalan kaki,” tuturnya.

Terdapat tiga sungai yang bermuara ke pantai Labuhan Haji. Namun saat ini baru satu sungai yang dipasangi trash trap lantaran keterbatasan anggaran dan dukungan dari pemerintah maupun kontribusi masyarakat setempat.

“Kita pasang alat ini pada minggu kemarin pada satu sungai, mungkin ke depan tiga-tiganya akan kita pasangi trash trap,” jelasnya.

Berkat apa yang diciptakan itu, CEF berhasil masuk menjadi salah satu pemenang pada sebuah ajang yang diselenggarakan oleh Pertamina Foundation, dan satu-satunya pemenang dari Provinsi NTB, sehingga kegiatan CEF didanai oleh Pertamina.

“Tapi dana yang kita terima ini terbatas, jadi tidak bisa semua sungai ini tercover. Makanya kita harap dukungan dari pemerintah agar sampah ini bisa kita kendalikan demi terciptanya wisata yang bersih,” tegasnya.

IMG 20220618 WA0020 1

CEF tentunya telah ikut berperan dalam program Pemprov NTB terkait Zero Waste. Pemuda ditegaskannya tidak hanya bisa mengkritik, melainkan juga harus membuktikan dirinya pada masyarakat maupun pemerintah. Tapi nyatanya sampai dengan saat ini tidak ada bentuk dukungan yang didapat dari pemerintah daerah.

“Sangat dibutuhkan bantuan pemerintah, Zero Waste kan program Pemprov. Kalo sudah dibantu masa mereka tidak mau membantu kita juga,” ujarnya.

Sampai dengan saat ini inovasi yang telah dibuatnya mendapat apresiasi dari DLHK Lotim, tapi belum ada dukungan atau perannya dalam membantu mengembangkan inovasi yang telah dibuat oleh para pemuda yang kreatif ini.

“Kita lagi menunggu janji support dari DLHK juga. Kadisnya pernah meninjau lokasi kita dan katanya udah di up ke provinsi. Kami tinggal menunggu tindak lanjut dari pemerintah saja, kami sangat butuh dirangkul oleh orang tua kita,” pungkasnya. (den)