NTB Belum Dapat Kepastian Terkait Sapi Indukan Impor

Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, Hj Budi Septiani (baju kuning), mengecek lokasi penanaman pakan hijauan ternak (lamtoro), milik kelompok peternak calon penerima sapi indukan impor di Kabupaten Sumbawa beberapa waktu lalu. Inside Lombok/ANTARA/Awaludin.

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Nusa Tenggara Barat belum mendapatkan kepastian dari Kementerian Pertanian terkait dengan program pengembangan sapi indukan impor dalam rangka meningkatkan populasi dan produktivitas ternak ruminansia tersebut.

“Kami belum dapat informasi terakhir terkait program tersebut. Itu program pemerintah pusat dan sekarang semua konsentrasi penanganan virus corona,” kata Kepala Disnakeswan NTB, Hj Budi Septiani, di Mataram, Senin.

Dalam perencanaan awal, kata dia, NTB akan memperoleh sebanyak 2.500 ekor sapi indukan impor. Jumlah tersebut merupakan bagian dari satu juta sapi indukan yang akan didatangkan oleh Kementerian Pertanian untuk disebar ke beberapa provinsi pada 2020.

Tujuan program pengembangan sapi indukan impor tersebut untuk peningkatan populasi dan produktivitas, sehingga ke depan tidak lagi banyak memotong sapi lokal yang merupakan plasma nutfah.

Budi menyebutkan anggaran untuk mengimpor sebanyak satu juta sapi indukan tersebut mencapai Rp50 triliun.

“Karena ada wabah ‘Coronavirus Desease 19″ (COVID-19), mungkin pemerintah pusat menunda dulu. Apalagi ada pengalihan sebagian anggaran untuk membantu peternak terdampak virus corona, baik dari APBN maupun APBD,” ujarnya.

Meskipun belum ada kepastian, kata dia, pihaknya sudah melakukan berbagai persiapan, salah satunya mengecek calon kelompok peternak yang akan menerima bantuan sapi indukan impor di Kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa. Kunjungan lapangan dilakukan sebelum merebaknya wabah COVID-19.

Kelompok ternak di Kecamatan Labangka tersebut siap menerima indukan sapi impor karena memiliki potensi lahan sumber pakan seluas 300 hektare, terdiri atas milik kelompok 120 hektare, milik masyarakat 180 hektare.

“Untuk satu hektare lahan ada 2.200 pohon, di mana setiap pohon menghasilkan lima sampai dengan tujuh kilogram pakan. Dalam satu tahun bisa panen empat kali,” kata Budi. (Ant)