Pekerja Anak di KEK Mandalika Kembali Meningkat

509
Seorang pekerja anak di Kuta Mandalika sedang menawari souvenir dagangannya kepada pengunjung, Selasa (21/7/2020). (Inside Lombok/Ida Rosanti).

Lombok Tengah (Inside Lombok)- Pekerja anak di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika masih sulit untuk dihapus. Belakangan, pekerja anak di objek wisata dunia itu kembali meningkat.

“Dulu memang sempat menurun setelah deklarasi. Tapi sekarang pas Covid-19 ini libur sekolah jadi kembali meningkat”,kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Lombok Tengah, H. Muliardi Yunus, kepada Inside Lombok, Selasa (21/7/2020) di Kantornya.

Dari catatan pihaknya, jumlah pekerja anak di KEK Mandalika sekitar 60 orang anak. Anak-anak yang menjadi pedagang asongan ini tidak semuanya tidak bersekolah.

“Tidak semua pekerja anak itu tidak sekolah. Ada yang sekolah jualan pas sudah pulang sekolah”,katanya.

KEK Mandalika, lanjutnya, sudah dideklarasikan sebagai kawasan ramah anak bebas eksploitasi. Namun, pekerja anak masih belum bisa diatasi maksimal karena menyangkut kebiasaan di tengah masyarakat.

“Ini sudah turun temurun”,katanya.

Pemerintah pusat juga sudah dua kali datang ke KEK Mandalika dan menekankan pencegahan eksploitasi anak di objek wisata. Namun, aktivitas itu masih menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bersama.

“Butuh kerjasama dari semua pihak, keamanan, termasuk PT ITDC”,katanya.

Yang paling utama, kesadaran dari orang tua sangat diharapkan untuk mencegah anaknya menjadi pedagang asongan di objek wisata.

“Keberadaan pekerja anak kadang mengganggu kenyamanan wisatawan. Tentunya kesadaran orangtua yang kita harapkan di sini”, ujarnya.

Dia menjelaskan, pihaknya sudah membentuk Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di desa Kuta. LPA tersebut diharapkan bisa memberikan pemahaman dan pembinaan kepada anak-anak agar berhenti turun berjualan.

“LPA itu semestinya berperan aktif untuk bina anak-anak”,urainya.

Dia juga mengatakan, pembangunan bazar mandalika sejatinya diperuntukkan bagi orangtua. Sehingga mereka bisa berjualan di tempat itu untuk membantu ekonomi keluarga. “Sehingga anak-anak tidak bekerja lagi”,katanya.

Akan tetapi, bazar Mandalika tersebut sampai saat ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh para pedagang.

Selain itu, pekerja anak di pantai Kuta diklaim sebagian di antaranya bukan warga Kuta. Namun dari desa sebelah.”Itu ada cukongnya yang memberikan barang (jualan). Seharusnya kita atasi ini dulu akar masalahnya”,katanya.