Pemda Lotim dan KSDAE Capai Kesepakatan Pengelolaan Sembalun

Bupati Lotim bersama dengan Dirjen KSDAE, BTNGR serta sejumlah OPD lainnya, di Sembalun, Selasa (23/02/2021). (Inside Lombok/PKP Setda Lotim).

Lombok Timur (Inside Lombok) – Pemerintah Daerah (Pemda) Lombok Timur (Lotim) capai kesepakatan dengan Konservasi Sumber Daya Alam Eskosistem (KSDAE) terkait dengan pengelolaan wilayah Sembalun untuk mendatangkan PAD bagi daerah. Adapun salah satu kesepakatan yang dicapai yaitu menerapkan One Gate One Ticket di Cemara Siu di luar kawasan TNGR.

Wilayah Sembalun telah dikenal menjadi destinasi wisata sejak Tahun 1980-an dengan daya tarik alam serta adat dan tradisi yang terjaga. Juga posisinya sebagai penghasil bawang putih nasional.

Pengembangan Sembalun menjadi diskusi Bupati Lombok Timur, H M Sukiman Azmy bersama Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam Eskosistem (KSDAE) Wiratno, untuk menyinergikan pengelolaan landscape ekosistem Rinjani. Diskusi tersebut berlangsung Senin (22/02) kantor Balai Taman Nasional Gunung Rinjani.

“Sembalun dipilih karena kawasan ini berada di lingkar Rinjani yang terus menarik perhatian dengan berbagai label seperti Taman Nasoinal, Global Geopark, Cagar Biosfer, dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN),” ucap Bupati saat pertemuan dengan KSDAE.

Selain berdampak positif dari perkembangan wisata seperti meningkatkan jumlah wisatawan, juga harus memikirkan timbulnya dampak negatif seperti kerusakan lingkungan. Pemda Lombok Timur juga mengalami keterbatasan ruang gerak dalam mengelola wisata Sembalun karena sebagian besar merupakan wilayah BTNGR dan Provinsi NTB.

“Persoalan lain yang timbul adalah pendapatan masyarakat dari sektor pariwisata yang dirasakan belum merata atau hanya dinikmati orang tertentu, sementara lainnya hanya menjadi penonton,” tegas Bupati.

Selain itu kontribusi untuk Pemda dari pariwisata yang berkembang di Sembalun juga belum terlihat. Karena itu Pemda Lombok Timur mengajukan sejumlah solusi seperti menyusun master plan terpadu sembalun oleh BTNGR dengan Provinsi.

Peningkatan kerja sama BTNGR, Pemda, dan masyarakat pelaku wisata untuk mendapat akses di kawasan yang melibatkan semua stakeholder seperti Desa, Pokdarwis, BUMDes, dan pelaku-penggiat pariwisata juga menjadi usulan. Ditawarkan pula konsep One Gate Ticketing One Ticket ke Rinjani untuk menarik retribusi.

Dengan begitu, sehingga Pemda bisa mendapatkan peningkatan PAD dari kegiatan pendakian Rinjani, termasuk pendakian ke bukit-bukit yang dikelola provinsi seperti Anak Dara, Pergasingan, Nanggi, Selong, dan lainya.

“Untuk itu kita menganggarkan dana Rp1 M untuk pembangunan sarana Prasarana pariwisata di sekitar Cemara Siu yang menjadi loket karcis pendakian,” ujarnya.

Lanjut Bupati, dengan membangun area transit atau rest area di sekitar lokasi tersebut yang akan menampung seluruh wisatawan. Pemda Lotim juga berencana mengaspal jalan hotmix jalur tracking sampai gerbang kawasan Rinjani.

Diskusi tersebut menghasilkan Kesepakatan Bersama yang nantinya akan dilanjutkan Perjanjian Kerja Sama dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Salah satu poin kesepakatan bersama tersebut adalah pembangunan rest area di luar Kawasan TNGR, yaitu di Desa Sembalun Bumbung dan Kawasan HGU Sembalun Kusuma Emas oleh Pemda Lotim.

Diterapkannya konsep One Gate One Ticket di Cemara Siu di luar Kawasan TNGR sebagai konsep baru dalam pengembangan pariwisata yang terintegrasi dalam landscape ekosistem Sembalun. Isi kesepakatan lainnya adalah pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat di sekitar TNGR pada sembilan kecamatan Kabupaten Lombok Timur dengan pola pemanfaatan air dari dalam Kawasan TNGR, dengan prinsip non komersial.

“Kita (Pemda Lotim) dan BTNGR akan melakukan kajian perbaikan pipa air yang telah ada sebelumnya pada jalur eksisting Sembalun,” imbuhnya.

Kemitraan konservasi juga menjadi poin kesepakatan, kemitraan dapat dilakukan pada zona tradisional seluas 400 Ha melalui pola pemanfaatan HHBK, jasa lingkungan (wisata alam, air), dan pemulihan ekosisitem.