Polresta Mataram Segel Gudang Produksi Tepung Oplosan

Produk tepung terigu cap Tiga Mawar dalam kemasan siap edar yang diduga oplosan dari beragam merek menumpuk di gudang milik UD SANTARI, Mataram, NTB, Selasa (12/5/2020). (Inside Lombok/ANTARA/Humas Polresta Mataram)

Mataram (Inside Lombok) – Kepolisian Resor Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menyegel sebuah gudang di Jalan Gora, wilayah Selagalas, karena diduga memproduksi tepung terigu oplosan dari beragam merek.

“Karena ini masih penyelidikan, gudangnya kita segel,” kata Kasat Reskrim Polresta Mataram AKP Kadek Adi Budi Astawa ketika dihubungi melalui kontak telepon di Mataram, Kamis.

Selain melakukan penyegelan, pihak kepolisian turut menyita seluruh bahan produksi termasuk 9 ton tepung terigu yang sudah dalam kemasan siap edar maupun yang masih dalam kemasan berlabel resmi.

Dari hasil pemeriksaan sementara, lanjut Kadek Adi, tepung terigu yang diproduksi dalam kemasan berukuran setengah kilogram dengan cap Tiga Mawar tidak mengantongi surat izin edar resmi dari BPOM.

“Jadi dugaan sementara ini, pelaku (pemilik produk) membeli bahan tepung terigu dari beberapa merek, kemudian membuka dan mengemas kembali dengan takaran plastik yang jauh lebih kecil, kemudian diedarkan, diperdagangkan,” ujarnya.

Namun ada hal yang mengejutkan lagi, setelah tepung terigu diduga oplosan, pihak kepolisian menemukan 46 drum plastik berwarna biru berisi cairan kimia jenis asam sulfat dalam areal gudang.

Bahkan turut diamankan seperangkat alat yang belakangan diketahui pihak kepolisian berfungsi untuk memproduksi air aki.

“Makanya itu, izin usaha sama produksinya (aki) tidak ada mereka pegang, ini berkaitan dengan limbah B3 (bahan berbahaya beracun), gudang produksinya jadi satu dengan pangan (tepung terigu),” ucap dia.

Karenanya, pihak kepolisian dikatakan sedang melakukan pendalaman terhadap kasus tersebut. Koordinasi dengan BPOM terkait kandungan tepung terigu cap Tiga Mawar masuk dalam rangkaian penyelidikan Tim Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Satreskrim Polresta Mataram.

“Begitu juga dengan pemiliknya, masih dalam proses pemeriksaan,” kata Kadek Adi. (Ant)