Potensi Sampah NTB Capai 3000 Ton dalam Sehari

Tumpukan sampah di TPA Regional Kebon Kongok, Gerung (Inside Lombok/Istimewa)

Mataram (Inside Lombok) – Masalah pengelolaan sampah menjadi salah satu prioritas bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini. Melalui program NTB Zero Waste (NTB Bebas Sampah) Pemprov NTB berharap masalah-masalah terkait pengelolaan sampah bisa diselesaikan.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB selaku penanggung jawab program NTB Zero Waste harus memutar otak untuk mewujudkan rencana tersebut. Bagaimana tidak, berdasarkan data milik Dinas LHK NTB sendiri pada tahun 2018 saja sekitar 80% sampah di NTB masih belum bisa dikelola.

Diterangkan Sekretaris Dinas LHK NTB, Syamsuddin, khusus di NTB potensi sampah yang dimiliki per hari adalah sebesar 3.388,76 ton. Dari jumlah tersebut, yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hanya sekitar 641,92 ton per hari, dan yang berhasil didaur ulang di bank sampah hanya sekitar 51,21 ton per hari.

“Sampah yang tidak terkelola sekitar 2695,63 ton per hari, atau sekitar 80% sampah kita belum tertangani berdasarkan data tahun 2018,” ujar Syamsuddin, Kamis (27/06/2019) di Mataram.

Syamsuddin sendiri menerangkan bahwa berdasarkan instruksi dari pimpinan daerah, dalam hal ini Wakil Gubernur NTB, Sitti Rohmi Djalillah, serta berdasarkan RPJMD yang telah disusun oleh Pemprov NTB maka target penyelesaian masalah sampah di NTB adalah empat tahun ke depan, yaitu di tahun 2023.

“Kita targetkan 2023 itu menuju nol (potensi sampah NTB, Red). Target Zero Waste itu kita akan mengurangi 30% sampah dan menangani 70% sampah yang selama ini belum tertangani dengan baik,” ujar Syamsuddin.

Untuk wewujudkan program NTB Zero Waste sendiri, sesuai dengan RPJMD tahun 2018 Dinas LHK NTB telah mendorong terbentuknya 50 unit bank sampah yang menjadi mitra dalam mengelola sampah. Untuk tahun 2019, Syamsuddin menerangkan bahwa Dinas LHK NTB menargetkan untuk membentuk 74 bank sampah tambahan untuk memaksimalkan dan menampah kapasitas sampah yang bisa didaur-ulang.

Menambahkan hal tersebut, Kabid Pengelolaan Sampah dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Dinas LHK NTB, Lalu Syakruzali Suprayadi, menerangkan bahwa pengelolaan sampah di NTB saat ini telah menggunakan beberap teknologi seperti yang dilakukan di seluruh bank sampah rekanan. Antara lain mendaur-ulang sampah organik menjadi kompos dan penggunaan metode Black Soldier Fly (BLF).

“Dari BLF itu kita dapat tiga keuntungan. Kita dapat pupuk cair, ada juga pupuk kompos, dan pupa lalat hitam yang menjadi pakan ternak dan ikan,” ujar Syakruzali.

Selain itu, Dinas LHK NTB juga sedang berusaha menggodok metode baru pengelolaan sampah yang disebut Pirolisis, yaitu cara melakukan dekomposi sampah hingga menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM). Metode ini disebut Syakruzali akan sangat membantu dalam pengelolaan sampah jenis plastik yang selama ini telah menjadi masalah global.

“Selain yang bisa didaur ulang, ada sampah-sampah berbahan plastik yang tidak pernah bisa dikelola. Jadi sampah-sampah yang tidak dikirim oleh bank sampah untuk proses selanjutnya akan dilakukan dengan sistem prolisis untuk diubah jadi BBM,” ujar Syakruzali.

Walaupun begitu, Syakruzali mengakui bahwa metode tersebut juga masih membutuhkan pengkajian lebih lanjut. Terutama terkait masalah lahan, prizinan, dan pembiayaan. Untuk itu Syakruzali menerangkan bahwa pihaknya akan segera berkoordinasi dengan OPD terkait agar metode baru tersebut bisa segera berjalan.

“Mudahan-mudahan dalam waktu dekat. Mungkin satu atau dua tahun ke depan bisa terwujud di NTB,” pungkas Zyakruzali.