Tari Rudat, Kesenian Khas Suku Sasak yang Mulai Terlupakan oleh Zaman

Lombok Timur (Inside Lombok) – Tarian Rudat merupakan salah satu tarian jejak peninggalan nenek moyang beragama Islam di Pulau Lombok. Pasalnya, tarian khas suku sasak tersebut dimainkan dengan lantunan sholawat dan juga pujian terhadap Allah SWT. Selain itu juga, tarian Rudat dimainkan dengan cara memadukan gerakan pencak silat dan gerakan lainnya.

Entah darimana datangnya tarian yang kental dengan nuansa islami tersebut, hanya saja terdapat kemiripan tarian Rudat tersebut dengan budaya dan tarian asal negara Turki. Pasalnya, pakaian dari para penari Rudat menggunakan kopiah tarbus (topi panjang), baju kemeja dengan pernak-pernik khas, dan juga celana panjang serta menggunakan kain khas suku sasak sebagai lapisan luar dari celana panjang. Pakaian yang digunakan hampir mirip dengan pakaian adat Tuki yaitu pakaian adat Croatia.

Setiap tarian tentunya diiringi dengan musik tradisional, begitu juga dengan Rudat. Ada beberapa alat musik yang digunakan dalam mengiringi tarian Rudat yang dimainkan oleh Sekaha (pemain musik Rudat). Alat musik tersebut berupa gendang, biola, rebana, tamborin dan benduli (gitar khas sasak).

Di Pulau Lombok tak banyak yang bisa tarian Rudat tersebut, hanya beberapa wilayah saja yang mempunyai tarian tersebut. Tarian Rudat sendiri hanya dimainkan oleh laki-laki dengan anggota 12 sampai 18 orang.

Rudat tak hanya berbicara tentang tarian, akan tetapi Rudat juga memiliki teater yang menceritakan tentang penyebaran Islam pada zaman dahulu. Teater maupun tarian Rudat kini sudah jarang terlihat. Tak seperti tahun 80-90an, Rudat bisa ditemui pada kegiatan keagamaan dan kerohanian seperti acara khitanan, aqiqah, dan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI).

Salah seorang pecinta tari Rudat sekaligus sebagai pelatih tari khas suku sasak Asal Desa Aikdewa, Saepudin Zohri menyampaikan keresahannya melihat tari Rudat yang kian tergerus zama. Tidak adanya ketertarikan dari kaum muda untuk mempertahankan tari tersebut.

Selain itu, tidak adanya perhatian dari Pemerintah untuk melestarikan tari tersebut. Zohri pun beserta rekannya pecinta Rudat membuat sebuah sanggar bernama Sanggar Rudat Al-Guri untuk tetap mempertahankan eksistensi Rudat yang ia dirikan sejak 2012 silam yang berada di Desa Aikdewa, Kecamatan Pringgasela, Lotim.

“Sampai saat ini tidak ada perhatian dari pemerintah untuk melestarikan tari ini, terlebih bantuan dari pemerintah pun tidak ada,” ujarnya kepada Inside Lombok.

Kendati demikian, ia tidak ingin melihat Rudat tersebut punah, ia berinisiatif mempertahankan tari tersebut dengan melatih anak TK, SD, dan SMP. Dengan demikian, Rudat akan terus diingat dari generasi ke generasi.

“Saya sendiri tidak menginginkan Rudat mati oleh zaman,” katanya.

Saepudin berharap agar Rudat dapat perhatian dari pemerintah untuk tetap melestarikan budaya peninggalan leluhur tersebut. Salah satunya dengan menggelar event Rudat setiap tahunnya yang memperlombakan Rudat dari berbagai wilayah di Lombok.

“Ini harus dilestarikan, terlebih Rudat ini merupakan salah satu peninggalan kesenian Islam di sini,” ujarnya.