20.5 C
Mataram
Jumat, 21 Juni 2024
BerandaEkonomiPendapatan Meningkat, PKL Menjamur di Lingkar Selatan Selama Musim Haji

Pendapatan Meningkat, PKL Menjamur di Lingkar Selatan Selama Musim Haji

Mataram (Inside Lombok) – Lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL) mulai menjamur di kawasan Asrama Haji Embarkasi Lombok. Salah seorang PKL, Sarisah mengungkapkan dia bersama dua anaknya membuat lapak bakso, soto dan aneka minuman di sana, lantaran dalam sehari pendapatannya bisa mencapai Rp1 juta atau lebih.

“Ini tergantung dari ramai atau tidaknya. Kalau lagi sepi itu Rp600-700 kita dapat,” katanya di sela-sela melayani pembeli, Kamis (8/6) pagi. Lahan persawahan tempatnya berjualan di dekat Asrama Haji pun disewa sebesar Rp600 ribu sampai dengan 22 Juni mendatang, sampai pemberangkatan haji selesai.

Diakui Sarisah, meski harus merogoh kocek untuk menyewa lahan, berjualan di musim haji tetap dinanti-nantikannya lantaran omzet yang diperoleh bisa meningkat dua kali lipat. “Selain di sini, saya jualan di rumah, tapi ya gitu. Pendapatan kecil. Dalam sehari itu Rp400-500 ribu. Jadi tetap kalau ada acara begini saya keluar jualan,” katanya.

Musim pemulangan haji juga dimanfaatkan dan membuat lapak lagi. Biasanya, pada saat pemulangan jemaah haji para pedagang memanfaatkan trotoar untuk berjualan. “Tidak ada sewan nanti. Karena di atas trotoar kita jualan,” ujarnya.

- Advertisement -

Untuk menjaga kebersihan di kawasan tersebut, para pedagang dipungut biaya kebersihan sebesar Rp10 ribu per lapak per hari. “Pemerintah tidak melarang kita, hanya diminta jaga kebersihan dan bayar ke petugas itu Rp10 ribu setiap hari,” tutupnya.

Pedagang yang lain, Aspiah mengaku momen pelaksanaan ibadah haji dimanfaatkan para PKL untuk mendirikan lapak. Karena omzet yang didapatkan mencapai Rp1-2 juta. Sehingga momen pemberangkatan haji setiap tahunnya dimanfaatkan untuk bisa meraup pendapatan yang lebih banyak dari biasanya.

“Biasanya kita buat lapak disini. Karena kalau ramai itu bisa mencapai Rp1-2 juta,” katanya Kamis (8/6) pagi. Jika kunjungan keluarga jemaah sepi, omzet yang diperoleh mencapai Rp100-200 ribu per hari. “Kalau sepi ya sepi. Paling kita dapat itu Rp100 ribu,” lanjutnya.

Selain pada musim haji, Aspiah keliling membawa barang dagangannya ke acara-acara besar yang digelar baik oleh pemerintah maupun pihak swasta. Karena jika mengandalkan hasil jualan di rumah, tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Makanan yang dijual seperti mie, snack dan berbagai jenis minuman serta rokok.

“Jadi keliling kalau ada event-event. Karena biasanya ada saja yang memberikan kita informasi ada acara besar,” ungkapnya. Aktivitas jualannya saat ini, setiap musim haji hingga selesai pemberangkatan dan akan kembali lagi pada saat proses pemulangan jemaah. Karena keluarga jemaah haji di NTB biasanya ikut mengantarkan keberangkatan dan bahkan ikut menginap di luar asrama. “Nanti ramai pada saat jemaah datang. Hari ini jadwalnya sore. Saya ikuti jemaah ini. Nanti akan kumpul di kantor bupati, saya kesana bawa dagangan,” katanya. (azm)

- Advertisement -

Berita Populer