Earthquake – Puisis Budhi Setyawan

232
Earthquake (Ilustrasi oleh Nuraisah Maulida Adnani)

Technical Difficulties
: paul gilbert

bagaimana sebaiknya mendefinisikan
ihwal apa yang mesti diulang ulang
dari pekerjaan yang disebut melamun

bukankan kenisbian mengalir
di udara yang telah diberati polutan
lalu dihirup para penghuni dunia mimpi

hambur persepsi seperti ribuan kelelawar
menyambar nyambar dan berputar putar
di dalam gua gulita yang pengap

apakah sudah ada yang membuat jalan keluar
bagi kebuntuan diskusi tentang kemanusiaan
mungkin makhluk planet lain pernah mewariskan

tak pernah sampai tafsir laju ingatan
oleh postulat relativitas dan fisika kuantum
tetapi selalu saja terjadi persamaan reaksi

makna makna ikut berlari
mengejar ramalan yang ditawarkan komputer
waktu akan membakar segala yang diam saja

Bekasi, 8 November 2021

Waves of Thought
: exivious

ada pergolakan yang tak tampak
dari permukaan air tenang
dari lapisan cuaca terang
siapa membaca geliat geliat berletupan
di kedalaman kepala para penafsir
yang lebih luas dari antariksa

suara bocah kecil bertarung dengan tajam
seperti adu pedang
gemerincing di udara
menyebar ke halaman buku
ke dalam gambar diam
atau yang bergerak
menjadi spektrum praduga
menawarkan bermacam simbol
dan sebagian belum bernama

lalu memacu menderu
dari pusaran di pusat tubuh
denyut yang berlari mencari
pengetahuan begitu kencang melaju
dalam lompatan perubahan terus berpindah
memainkan valensi intuisi
menyiasati lamban waktu

seperti mengejar terbang roket
makin banyak yang menerka
bagaimana langit berganti wajah
setelah terbit temuan melontarkan eskalasi
jumlah planet yang bisa dihuni

sejauh mana hasrat menguasai jagat
apakah lebih dalam dari lubang hitam
yang menyerap segala keberadaan
hingga muncul beraneka dimensi alibi
kutub simpangan yang masih saja ramai
disimak dan dikunjungi

kebenaran seperti udara yang kita hirup
ada di mana mana
tetapi siapa yang melihatnya

Bekasi, 13 Februari 2022

Earthquake
: uli jon roth

sampai di mana batas kekacauan
saat lapar menyerang
perut yang rajin melakukan demo
di hadapan musim

karena iklan iklan tak mengenyangkan
hanya rajin berenang
di rongga kepala orang orang
dianggapnya akuarium kekinian

ada gerakan sulit terdeteksi
mengguncang analekta perlambang
dan terus saja menikam anyam anyaman
ragam serat dengan warna lama

ada yang rubuh dan runtuh
porak poranda tergeletak
tak kuasa pada desak desak kuasa
rudapaksa via jalinan langit utara

apakah kepanikan mengisi kisi kisi waktu
yang diterjang penuaan dini
hingga cermin di dalam diri
pecah berkali kali

terhampar butiran butiran nasib
tak punya identitas lagi

Bekasi, 7 November 2021

The Orgy
: fromus

ada yang meluap dari dalam tubuh kita
rintik kegembiraan berletupan
dan tak lama kemudian menjadi
gelembung gelembung berpendaran
lalu menjelma balon berwarna warni
melayang bebas ke langit
menuju keluasan semesta

dan kita tak kehilangan apapun
hanya kian ringan kamar dada
makin banyak deburan dan golakan
nyanyian yang penuh pelukan
gambar gambar bergerak yang jenaka
seperti opera epik serial panjang
meski tak ada yang akan disebut pahlawan
karena lakon lakon telah memilih sendiri
pemeran sebelum datang kelahiran

udara sekitar dengan bibir lembutnya
kirimkan ciuman bertubi tubi
hingga menjejak sedikit merah muda
seperti kulit apel royal gala
tak tertahankan selebrasi berkali kali
meski mungil seperti kail
yang tersangkut ikan kecil di kali
yang jernih saat kemarau
mengalir perlahan menuju hilir
dingin dan tak banyak ingin

sebagaimana pesta
tawa adalah panggung bagi kita
yang masih mengejar sebagian umpama
dan tak harus tertangkap juga
semuanya

Bekasi, 31 Januari 2022

IMG 20220306 WA0003Budhi Setyawan, atau Buset, lahir di Purworejo, 9 Agustus 1969. Menyukai musik dan puisi. Koleksi pita kasetnya menjadi inspirasi untuk menulis beberapa puisi bertema musik. Bekerja sebagai dosen di PKN STAN, Tangerang Selatan. Mengelola komunitas Forum Sastra Bekasi (FSB) dan Kelas Puisi Bekasi (KPB). Saat ini tinggal di Bekasi, Jawa Barat.