Kain Tenun Komodo dan Nanas Emas – Cernak Fadil Setia Gunawan

75
Kain Tenun Komodo dan Nanas Emas (Ilustrasi oleh Nuraisah Maulida Adnani)

Kanaya hidup bersama Ayah dan Ibunya di rumah kecil beratap jerami. Ayahnya seorang nelayan dan Ibunya penenun. Mereka tinggal di desa Kalamba. Desa ini diapit sebuah gunung dan laut.

Ada banyak komodo pada malam hari di pesisir pantai. Komodo memiliki kekuatan untuk menjaga desa dari gelombang air laut. Sayangnya, gelombang air laut naik karena banyaknya komodo diburu manusia untuk dijadikan kain, tas dan barang-barang lainnya, membuat desa tempat tinggal Kanaya perlahan tenggelam.

Hanya kanaya dan beberapa warga saja yang selamat dari bencana tidak termasuk orang tuanya. Kanaya sangat sedih atas kepergian orang tuanya. Seluruh warga yang selamat mengungsi ke kaki gunung.

Pada malam hari, Kanaya bertemu sepasang komodo terakhir di dekat pengungsian. Komodo meminta Kanaya untuk mencari bahan dasar lain yang bisa dijadikan kain tenun.

“Kalau kau ingin desa Kelamba kembali, carilah pohon nanas ajaib di puncak gunung Mutis,” kata komodo dengan matanya yang bulat seperti bola besar.

“Pohon nanas? Untuk apa?” tanya Kanaya heran sambil ketakutan.

“Pohon itu bisa kau gunakan untuk membuat kain. Lalu gunakan kain tersebut untuk menghentikan luapan air.”

“Benarkah?” tanya gadis itu lagi.

“Berhentilah memburu kami dan temukan apa yang kau cari!” ujar komodo mengabaikan pertanyaan Kanaya.

Kanaya lalu bersiap-siap dan berangkat dengan bekal sebotol air. Setelah beberapa hari mendaki gunung, ia sampai di puncak. Pohon Nanas tersembunyi di antara bunga-bunga abadi.

Kanaya hanya menemukan sebuah bibit nanas biasa berukuran kecil. Dia berpikir apa bisa membuat kain hanya dengan nanas sekecil ini. Kanaya hampir putus asa. Tiba-tiba botol airnya terjatuh dan airnya pun mengenai bibit nanas kecil. Seketika nanas kecil itu berubah menjadi pohon nanas yang sangat besar dan bercahaya.

Setelah kembali ke tempat pengungsian, Kanaya mengajak seluruh warga yang selamat dari bencana untuk pergi ke gunung. Mereka memotong daun nanas ajaib dengan hati-hati dan kemudian mengambil seratnya jadi benang.

Seluruh warga desa membuat kain tenun dengan motif komodo dengan semangat kemudian mereka meletakkannya di atas air laut yang menenggelamkan desa. Ajaibnya, air pun seketika terserap oleh kain yang mereka tenun, seluruh warga desa sangat senang. Sejak hari itu semua penduduk desa tidak pernah lagi memburu komodo dan turut melindunginya.

IMG 20220306 WA0001Fadil Setia Gunawan, seorang blogger yang suka fotografi dan musik. Dapat ditemui di www.fadilsgunawan.blogspot.com dan dapat dihubungi di fadilsetiagunawan82@gmail.com; @fadilgunawan__.