Bisnis Jajanan Tradisional Khas Sasak, Tetap Eksis Buat Generasi Milenial

205
Wida Hardiati Rachmi saat membuat jajanan tradisional, Jumat (28/01/2022). (Inside Lombok/M.Deni Zarwandi)

Lombok Timur (Inside Lombok) – Keberadaan jajanan khas suku Sasak saat ini mulai jarang ditemui. Dikarenakan para pedagang jajanan tradisional mulai gulung tikar, lantaran kalah dengan jajanan modern yang digandrungi anak millenial.

Meskipun saat ini jajanan tradisional sudah jarang ditemui. Namun masih tetap ada masyarakat yang membuat dan mencoba meningkatkan eksistensi jajanan tradisional melalui pemasaran online.

Seperti yang dilakukan Wida Hardiati Rachmi. Setiap harinya ia memproduksi jajanan tradisional seperti celilong, abuk, sumping walu, nagasari dan lainnya. Dalam sehari ia mampu menghasilkan hingga 300 biji jajanan tradisional tergantung pemesanan.

“Kita produksi tergantung pemesanan, kita juga kadang terima pesanan buat hajatan,” katanya pada Inside Lombok, Jumat (28/01). Wida biasanya menjual jajanan tradisional dalam bungkus mika, di mana per mika-nya diisi dengan empat jenis jajanan berbeda dan dibandrol dengan harga Rp5 ribu per mika.

“Kita jual online dan offline, itu kita jual cuma seharga Rp5 ribu saja. Alhamdulillah jajanan yang kita buat habis dalam sehari,” tuturnya. Bahan utama pembuatan jajanan tradisional ini terbilang cukup mudah ditemui di pasar, seperti ubi, gula merah, parutan kelapa, dan tepung beras. Sementara untuk menciptakan rasa khas pada jajanan, biasanya para pedagang membungkusnya dengan daun pisang.

Adapun keuntungan yang dihasilkan dari menjual jajanan tradisional ini bisa mencapai jutaan rupiah per bulannya. Tak heran, meskipun pada zaman milenial, promosi dan pemasaran dari jajanan tradisional tak sulit. Dikarenakan jajanan tradisional juga masih memiliki penikmatnya sendiri. (den)