Home Berita Utama Bupati Lombok Barat Selidiki Kebenaran Bantuan Nasi Basi

Bupati Lombok Barat Selidiki Kebenaran Bantuan Nasi Basi

Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid. (Inside Lombok/ANTARA/Awaludin)

Mataram (Inside Lombok) – Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid akan menyelidiki kebenaran isi video yang beredar terkait masyarakat yang dikarantina untuk pencegahan penyebaran COVID-19 diberi makan nasi basi.

“Saya belum terima informasi itu, tapi akan kami dalami kebenarannya. Karena fasilitas karantina sudah kita jamin bagus, begitu juga pelayanan,” kata Fauzan, melalui keterangan tertulis yang diterima di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Senin.

Seperti beredar di beberapa group WhatsApp, tampak di video itu beberapa warga yang dikarantina mengeluhkan kualitas nasi yang dikirimkan untuk mereka.

Fauzan mengatakan meskipun belum mengetahui kebenaran informasi tentang video itu, namun pasti akan melakukan penyelidikan. Sebab, yang menangani konsumsi (makan) untuk masyarakat yang dikarantina adalah Dinas Sosial Lombok Barat.

“Itu pun, makanan yang diberikan ke masyarakat khususnya yang di karantina dipesan lewat katering,” ujarnya.

Fauzan menyatakan seandainya itu benar, maka tempat penyedia (catering) makanan yang akan menerima konsekuensi, yakni pemesanan dialihkan ke katering lain.

“Iya, konsekuensinya, kami tidak lagi percaya ke perusahaan katering tersebut,” ucapnya pula.

Fauzan mengaku, sebelumnya alumni ijtimak Gowa itu pernah minta disiapkan kompor dan kebutuhan lainnya untuk mereka masak. Tapi, pemerintah memiliki pertimbangan sehingga tidak di izinkan.

“Saya tidak izinkan karena banyak pertimbangan, termasuk keamanan,” katanya.

Kepala Dinas Sosial Lombok Barat, Lalu Martajaya yang dikonfirmasi via telpon menyayangkan peredaran video tersebut. Martajaya menuturkan bahwa kejadian di video tersebut berlangsung Jumat (24/4).

“Saat diantarkan, karena diperiksa dan memang ada keluhan, langsung kita ganti saat itu juga. Mungkin karena ada sayur yang bahan bakunya dari parutan kelapa yang diolah agak lama dalam penyajian, tapi langsung diganti saat itu juga,” kata Martajaya. (Ant)