Ekspor Benur Distop, Pendapatan Nelayan di Loteng Merosot Lagi

Lombok Tengah (Inside Lombok)- Pendapatan nelayan lobster di desa Awang Kecamatan Pujut Lombok Tengah (Loteng) kembali merosot setelah penghentian sementara ekspor benih lobster atau benur oleh pemerintah pusat.

“Pendapatan nelayan di sini berkurang lagi setelah ekspor benih lobster ditutup karena Menteri Kelautan ditangkap KPK itu”,kata Kepala Dusun Awang yang juga nelayan lobster, Mashuri, Selasa (15/12).

Dia menuturkan, nelayan sempat bernapas lega. Karena ekspor benih lobster dibuka kembali oleh Menteri Kelautan dan Perikanan (KPP) Edhy Prabowo. Saat itu, pendapatan nelayan meningkat seiring dengan besaran harga benih lobster.

Akan tetapi, keadaan saat ini justru terbalik setelah Menteri Edhy diciduk KPK.

“Nelayan memang tetap bisa menangkap benih. Tapi harganya tidak besar lagi seperti waktu boleh ekspor itu”,ujarnya.

Dia menyebutkan, harga benih lobster jenis pasir saat ini hanya Rp3 ribu per ekor dari sebelumnya sebesar Rp16 ribu per ekor.

Sedangkan harga benih lobster jenis mutiara saat ini sekitar Rp10 ribu sampai Rp15 ribu per ekor. Dulunya harga benih lobster jenis ini sebesar Rp47 ribu per ekor.

“Itu kita jual ke pengepul. Pengepul yang ekspor ke luar negeri”, ujarnya.

Saat ini benih lobster dijual ke pengusaha di dalam daerah untuk dibudidayakan. Pusat budidaya lobster di daerah ini, lanjutnya berada di desa Ekas Lombok Timur. “Tapi itu masih ngambang bagaimana ke depan (ekspor)”, imbuhnya.

Dia berharap agar ekspor benih lobster ini segera dibuka. Sehingga pendapatan nelayan bisa meningkat kembali.

Di sisi lain, nelayan juga menangkap ikan untuk menambah penghasilan. Terlebih dengan didukung oleh keberadaan dermaga internasional di Teluk Awang.