Konflik Dualisme di Pusat, DPD LASQI Kota Mataram Undur Diri Jadi Tuan Rumah

34
Ketua DPD LASQI Kota Mataram, Hj. Kinnastri Roliskana. (Inside Lombok/Azmah)

Mataram (Inside Lombok) – DPD LASQI Kota Mataram mengundurkan diri sebagai tuan rumah penyelenggara Festival Seni dan Pop Religi tingkat nasional. Hal ini disebabkan adanya permasalahan dualisme kepemimpinan di tingkat pusat.

Ketua DPD LASQI Kota Mataram, Hj. Kinnastri Roliskana Senin (29/11) mengatakan jika penyelenggaraan festival tingkat nasional tetap digelar, dikhawatirkan menimbulkan persoalan hukum dan sosial. Pasalnya, anggaran pelaksanaan festival tersebut didukung melalui APBD pemda, baik Pemkot Mataram maupun Pemprov NTB.

“Kota Mataram mundur menjadi tuan rumah. Karena DPP LASQI pusat ada dualisme kepengurusan. Ini terkuak ketika persiapan sebagai tuan rumah festival tingkat nasional sudah mencapai 75 persen. Karena pelaksanaannya itu pada tanggal 18-21 November,” katanya.

Selain itu, SK penetapan Kota Mataram sebagai tuan rumah penyelenggara festival tingkat nasional ditandatangani oleh kubu tergugat. Sehingga, jika tetap terlaksana maka tidak akan berjalan dengan maksimal.

“Dari pusat juga meminta kita untuk menunda sampai ada kesepakatan di dua belah pihak. Tapi kan kita di Mataram tidak bisa diombang-ambing tanpa kejelasan. Karena ini menyangkut EO yang kita gunakan dan persiapan lainnya,” tegas Ketua DPD LASQI Kota Mataram.

Selama persiapan, DPD LASQI Kota Mataram belum sampai mengeluarkan anggaran untuk pelaksanaannya. Sehingga dengan pengunduran diri sebagai tuan rumah tersebut tidak ada kerugian materi yang ditimbulkan melainkan hanya tenaga dan waktu.

“Kita tidak mungkin menyelenggarakan asal-asalan dan harus menyiapkan dengan maksimal karena membawa nama baik Kota Mataram,” tambahnya.

Di sisi lain, meski DPD LASQI Kota Mataram sudah mengundurkan diri sebagai tuan rumah, DPW LASQI Provinsi NTB tetap menyelenggarakannya di Kota Mataram. Direncanakan kegiatan tersebut dilaksanakan pada 3-5 Desember mendatang.

Dengan tetap terselenggaranya pelaksanaan festival seni tingkat nasional tersebut, Kota Mataram tidak bertanggung jawab sama sekali terhadap jalanya acara. “Kita sudah mengambil sikap tegas bahwa kami tidak terlibat sama sekali,” tegasnya.

Jumlah peserta yang mengikuti festival tersebut sebanyak 64 orang. Puluhan peserta ini sudah masuk sebagai finalis, karena sebelumnya sudah mengikuti lomba secara virtual. Meski sudah mengundurkan diri, DPD LASQI Kota Mataram tetap melibatkan peserta dalam kegiatan tersebut. Karena saat ini tidak menjadi wakil Kota Mataram melainkan Provinsi NTB.

“Ada dua orang yang masuk tingkat nasional. Arena sudah membawa nama Provinsi NTB ya saya persilahkan untuk ikut berlomba,” pungkasnya. (azm)