Laporannya Ditolak Polres Loteng, Mahsun Akan Laporkan Ibunya ke Polda NTB

Mahsun menunjukkan BPKB dan STNK sepeda motor yang akan menjadi dasar dia melaporkan ibunya ke Polda NTB, Selasa (30/6/2020). (Inside Lombok/Ida Rosanti)

Lombok Tengah (Inside Lombok)- Penolakan Polres Lombok Tengah tidak lantas menghentikan langkah Mahsun untuk melaporkan ibu kandungnya.

Pria asal Dusun Berobot Desa Ranggagata Kecamatan Praya Barat itu berencana untuk melaporkan ibunya kembali ke Polda NTB atas penggelapan dan pencurian sepeda motor.

“Sudah (dipikirkan matang untuk melaporkan ibu ke Polda NTB)”,kata Mahsun, Selasa (30/6/2020) kepada Inside Lombok.

Keputusan untuk melaporkan ibunya ke Polda NTB karena Polres Lombok Tengah menolak untuk melanjutkan laporannya.

“Pak Kasat Reskrim bilang dia tidak mau luruskan masalah ini karena masalah (saya) sama Ibu (kandung) “,kata pria berusia 47 tahun itu.

Selain itu, mediasi di tingkat dusun juga sudah dilakukan. Sehingga menurutnya masalah ini harus diselesaikan melalui jalur hukum.

Dikatakan bahwa dia tetap keberatan kalau sepeda motor yang dibeli atas hasil penjualan harta warisan ayahnya dibawa pergi oleh ibunya ke rumah saudaranya. Semestinya sepeda motor jenis Honda Beat dengan nomor polisi DR 6791 CD itu diberikan kepadanya. Bukan dipakai oleh saudara kandung ibunya.

“Soalnya itu hasil ahli waris ayah saya”,kata Mahsun.

Mahsun sendiri adalah anak tunggal dari pasangan Kalsum dan almarhum suaminya, Madahan. Almarhum Madahan mewariskan tanah seluas 40 are yang kemudian dijual seharga Rp 240 juta. Dari hasil penjualan tanah itu kemudian Rp 15 juta diantaranya diberikan kepada ibunya serta dibelikan sepeda motor pada akhir tahun 2018.

Dari pengakuannya, sepeda motor itu adalah milik anaknya yang sudah menikah.

“Tapi ada perjanjian motor itu dikembalikan setelah menikah”,tutur Mahsun.

Motor itu lalu diberikan kepada ibunya dan belakangan dibawa oleh sang Ibu ke rumah saudaranya. Menurut dia, ibunya tidak musyawarah dulu dengannya saat membawa motor tersebut ke tempat saudaranya.

“Itulah saya beratkan sekali”, lanjutnya.

Sementara BPKB dan STNK sepeda motor tersebut masih berada di tangan Mahsun. Dua dokumen kendaraan itu kemudian akan digunakan menjadi senjatanya untuk melaporkan ibunya ke Polda NTB.

“Saya berani tuntut karena saya punya kekuatan yaitu BPKB sama STNK”,ujarnya.

Dia mengatakan, ibunya tetap bisa menggunakan sepeda motor itu kalau ditaruh di rumahnya.

“Iya taruh di sini biar adil. Nanti kalau mau pakai ke rumah sakit atau apa, nanti dia bisa ke sini. Bukan ditaruh ke sana. Itu saya beratkan sekali”,katanya.

“Solusinya saya tuntut ke Polda besok itu. Soalnya di Polres dia tidak mau selesaikan kemarin”,ujarnya lagi.

Sementara itu, Kalsum dalam kesempatan yang berbeda membantah dituduh mencuri sepeda motor oleh anaknya. Karena sepeda motor itu dibeli dari hasil penjualan tanah yang dibelinya bersama Almarhum suaminya.

“Itu bukan hasil kerja kerasnya. Hasil saya saya beli sawah sama suami saya dipakai beli motor. Belum lahir dia”, ujarnya.

Dia sendiri tidak menyangka kalau anaknya melaporkan dirinya kepada polisi. Hubungannya bersama Mahsun diakuinya berjalan baik, sampai perubahan sikap anaknya itu terjadi setelah menikah untuk yang ketiga kalinya.

Dia bahkan mengaku sering dipukul oleh anaknya dan juga salah satu menantunya. Kejadian itu menurutnya disaksikan oleh banyak orang.

“Sering dipukul. Banyak orang jadi sanksi. Sampai saya disuntik (dibawa ke RS) oleh Pak Kadus. Perut saya dipukul oleh istrinya”,tuturnya.

Dia merasa dibuang oleh anaknya sendiri atas perlakuan yang diterimanya itu. Sehingga dia memutuskan untuk kembali ke rumah saudaranya yang ada di Desa Giri Sasak Kecamatan Kuripan Lombok Barat.

Dia juga berencana akan mengambil sisa warisan miliknya berupa tanah dan rumah yang saat ini ditempati oleh anaknya.

“Melihat dia seperti ini semuanya akan saya ambil. Tidak ada yang akan saya berikan”,cetusnya.

“Dulu saya tidak berani beli apa-apa biar ada untuk anak saya. Tapi sekarang ada untuk saya, diginiin saya”,sesal Ibu berusia 61 tahun itu.