NTB Berlakukan Pengawasan Ketat Seluruh Pelabuhan Cegah Virus COVID-19

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik NTB, I Gde Ariadi bersama Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi. (Inside Lombok/ANTARA/Nur Imansyah).

Mataram (Inside Lombok) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui Dinas Perhubungan mengeluarkan surat edaran kepada seluruh pengelola pelabuhan untuk melakukan pengawasan ketat masuknya wisatawan untuk mencegah virus corona atau covid-19 masuk ke daerah itu.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik NTB, I Gde Ariadi, mengatakan surat edaran kepada seluruh pengelola pelabuhan untuk melakukan pengawasan ketat masuknya wisatawan itu mulai berlaku, Senin 16 Maret 2020.

“Surat edaran ini menindaklanjuti hasil rapat khusus pimpinan daerah pada hari Minggu (15/3) tentang penanganan virus corona,” ujarnya saat konfrensi pers di Mataram, Senin.

Ia menyebutkan, sejumlah pelabuhan yang diminta memberlakukan pengawasan ketat tersebut, antara lain Pelabuhan Penyeberangan Lembar Lombok Barat-Padangbai Bali. Pelabuhan Penyeberangan Kayangan Lombok Timur-Pototano Sumbawa Barat, Pelabuhan Penyeberangan Sape Bima-Labuan Bajo NTT.

“Termasuk, untuk Long Distance Ferry (LDF) Lembar-Surabaya, dan Pelabuhan laut yang melayani penumpang umum,” terang Gde Ariadi.

Selain melakukan pengawasan secara ketat, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB juga menutup Pelabuhan Pemenang dan Pelabuhan di tiga Gili, yakni Trawangan, Meno dan Air di Kabupaten Lombok Utara, mulai 17 Maret 2020. Khususnya, bagi kapal-kapal atau Fastboat yang datang dari Bali.

“Penutupan juga untuk Pelabuhan Senggigi di Lombok Barat dan terminal khusus yang melayani wisatawan di seluruh wilayah NTB,” ucapnya.

Menurut dia, masa berlaku pengawasan ketat dan penutupan pelabuhan dilakukan selama 14 hari sejak ditetapkan dan dilakukan evaluasi lebih lanjut.

Gde Ariadi, menegaskan pengawasan ketat terhadap pelabuhan untuk mencegah virus corona atau covid-19 masuk ke NTB.

Sementara untuk penutupan pelabuhan di tiga Gili, diperuntukkan untuk Fastboat yang datang dari Bali. Artinya, tidak ada lagi ada kapal yang mengangkut wisatawan yang datang dari Bali. Hal ini dilakukan untuk mencegah masuknya virus corona di tiga Gili, karena Bali sendiri sudah terpapar virus tersebut.

“Jadi kalau isu menutup seluruh areal pelabuhan dan bandara itu tidak benar. Begitupun agar meminta wisatawan keluar dari Gili juga tidak ada. Justru wisatawan yang sudah ada di Gili silahkan mereka menetap dan berlibur, sembari nanti di kawasan itu kita semprot dengan cairan disinfektan,” katanya. (Ant)