Potret Kemiskinan di Lotim: Nurhayati Rela Memulung Sambil Menggendong Balitanya

221

Lombok Timur (Inside Lombok) – Nurhayati, warga Lingkungan Beremi Dua, Kelurahan Kembang Sari, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur (Lotim) terus berjuang untuk menghidupi keluarganya. Demi mendapatkan rupiah, ia bersama tiga anaknya rela memulung sampah plastik dari kantor ke kantor.

Perempuan berusia 49 tahun itu sudah memiliki lima orang anak. Satu orang anak laki-lakinya sudah menikah, tiga anak perempuan masih menempuh pendidikan di SMP dan SD. Serta satu anak perempuannya masih balita.

Sejak pagi, Nurhayati sudah keluar memulung bersama anak bungsunya yang masih membutuhkan ASI. Bermodalkan gerobak, ia berjalan mengais sampah plastik dari kantor ke kantor sembari menggendong si kecil.

Nurhayati sebenarnya memiliki suami yang bekerja di peternakan ayak. Namun pendapatan suaminya diakui tak seberapa, terlebih untuk menghidupi empat anak dan dirinya. Dengan segala keterbatasan itu, ia memilih ikut membantu perekonomian keluarga dengan memulung sampah plastik.

“Suami saya masih ada, dia bekerja menjaga peternakan ayam. Tapi penghasilan tak seberapa,” katanya pada Inside Lombok saat ditemui di depan Kantor BKPSDM Lotim, Jumat (28/01).

Sering kali kedua anaknya yang masih duduk di bangku SD juga ikut membantunya mencari plastik bekas ketika pulang sekolah. Dengan penuh semangat kedua anaknya masuk ke kantor-kantor untuk mengumpulkan sampah yang bisa dijual kembali.

“Mereka (kedua anak Nurhayati, Red) tidak pernah saya suruh ikut mencari plastik, tapi sepulang sekolah mereka mencari saya untuk ikut membantu,” tuturnya.

Dibantu oleh anaknya, tentu adalah kebahagiaan sendiri bagi Nurhayati. Namun ada juga kekhawatirannya melihat anaknya yang lincah keluar masuk kantor dengan menyeberangi jalan. Ia takut jika terjadi apa-apa pada anaknya.

Lelah mencari plastik bekas, Nurhayati tak jarang beristirahat di pinggir jalan sembari memberikan ASI pada anak bungsunya. Saat beristirahat, ia bersama tiga orang anaknya seringkali hanya berbagi sebotol air putih yang dibawa dari rumahnya.

“Kita hanya istirahat sebentar, terus lanjut lagi,” ujarnya. Pendapatan dari hasil menjual sampah plastik pun tak menentu. Terlebih Nurhayati hanya bisa menjual hasil memulungnya ketika pengepul datang ke kampungnya.

Pendapatan paling banyak didapat Nurhayati dari memulung sendiri hanya Rp100 ribu saja. “Palingan ini kita dapat Rp100 ribu nantinya, wajar saja kan harganya cuma Rp1,5 ribu per kilonya,” tutupnya. (den)