Perjalanan Menembus Waktu Lewat ARY Juliyant & The Badjigur Bluegrass

Penampilan grup musik Ary Juliyant & The Bajigur Bluegrass dalam tajuk "Kereta itu dari Kota Mataram" di Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (NTB) Kota Mataram, Sabtu (3/8) malam. (Inside Lombok/ANTARA/Rizky Aulia Guevara)

Mataram (Inside Lombok) – Sebuah perjalanan waktu, menembus labirin masa lalu dan mimpi masa depan, saat mendengar dendang dari Ary Juliyant & The Bajigur Bluegrass.

Malam itu, Sabtu (3/8), melalui penampilannya dalam tajuk “Kereta itu dari Kota Mataram” di Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (NTB) Kota Mataram, mengajak mimpi adanya kereta api di tanah Lombok.

Mimpi kereta api apa?. Kereta yang menyambungkan dari Selong menuju Sumbawa.

Atau sebaliknya mendendangkan perjalanan lorong waktu yang telah dilaluinya saat Ary Juliyant masih tinggal di Kota Bandung yang terkenal dengan sebutan Paris van Java.

Semuanya dikemas dalam tembang balada yang kental dengan musik country dan petikan banjo sembari ditemani bas betot dan biola.

“Ini kisah Kota Bandung,  beberapa pengalaman Braga stone. Ini untuk persembahan Braga Stone,” kata Ary Juliant.

Sembari berlatar belakang, cuplikan dokumenter Jalan Braga Bandung zaman “baheula” sampai zaman milenial saat ini.

Braga Stone nama panggilan seorang pengamen tuna netra bernama Supeno pada tahun 1970-an dan 1980-an yang mangkal di sudut jalan Braga. Dengan kecapinya dia memainkan tembang Rolling Stones yang saat itu tengah trend.

Ary Juliant saat itu sering melintasi ruas jalan itu. Saat ini sang legend Braga Stones telah meninggal dunia tapi jejak suaranya masih menempel di bangunan tua kawasan Jalan Braga.

“Lagu ini terinspirasi Jalan Braga dahulu,” kata musisi yang hampir 25 tahun berekspresi di Pulau Lombok.

Diapun berceloteh tentang Stasiun Tugu pengalamannya saat perjalanan menggunakan kereta api dari Yogyakarta ke Kota Bandung. Pada malam harinya, dirinya melihat orang lalu lalang.

Ini menjadi inspirasi dalam menembangkan lagu tentang Stasiun Tugu. Semakin menarik lagi dibacakannya puisi tentang Stasiun Tugu dalam Bahasa Belanda oleh Mindy.

Permainan Wawan Wardaya pada bass serta pemain biola, benar-benar mengajak penonton ruang auditorium itu terbang ke alam masa lalu dan akan datang.

“Mataram Dream Express”, sebuah tembang mimpi akan adanya kereta api dari Selong Lombok Timur menuju Pulau Sumbawa dengan melewati terowongan bawah lautnya.

Tembang ini dimainkan dengan tempo cepat dan nuansa country semakin terasa. Terlebih lagi dengan lirik-liriknya yang menggelitik.

Eksplorasi dari Kang Ary Juliant ini benar-benar luar biasa. Tembang balada yang memukau penonton dan konsisten di jalurnya, patut diacungi jempol.

Penampilannya ditutup dengan
tembang Nyanyian Pagi dari Sumbawa, yang mengajak musisi jazz Suradipa untuk ikut bergabung.

Malam semakin larut, mimpi lagu kereta api yang selama ini ada bait lagi Naik Kereta Api, “ke Bandung ke Surabaya” akan digantikan menjadi “Ke Selong Ke Sumbawa”, akan dibawa tidur.

Terima kasih Ary Juliyant & The Bajigur Bluegrass dengan penampilannya menembus lorong waktu. (Ant)