Dinas Kesehatan Mataram Catat 176 Kasus DBD Sejak Januari 2020

Dokumentasi. Dinas Kesehatan Kota Pontianak, melalui Puskesmas Kecamatan Pontianak Timur, Kamis, mulai melakukan fogging atau pengasapan guna menekan penyakit DBD (demam berdarah dengue) akibat nyamuk Aedes Aegypti di kota itu. (Foto Andilala)

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Kesehatan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, sejak awal Januari 2020 sampai hari ini mencatat 176 kasus demam berdarah dengue (DBD).

“Dari 176 kasus itu, sebanyak 120 kasus dinyatakan positif dan sisanya 56 kasus menyerupai,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi di Mataram, Jumat.

Ia mengakui, tren kasus DBD selama tahun 2020 terus mengalami peningkatan, dari 43 kasus naik menjadi 121 dan kini 176 kasus, tapi belum ada kasus kematian.

Dari 176 kasus tersebut, kelurahan yang paling banyak kasus DBD adalah Kelurahan Monjok dan Karang Baru, sementara kelurahan-kelurahan lain kasusnya hanya satu atau dua saja.

“Untuk pencegahan, setiap hari kami melakukan fogging atau pengasapan pada wilayah yang teridentifikasi ada kasus DBD. Sehari kami turunkan dua tim fogging, satu tim 8 orang,” katanya.

Akan tetapi, perlu diketahui upaya penangan DBD melalui fogging hanya bisa membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentiknya tetap berkembang biak. Karena itu, upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dinilai paling efektif untuk melakukan pencegahan kasus DBD.

Karenanya, kegiatan penyuluhan tentang gerakan 3M plus (menguras bak air, menutup dan mengubur barang bekas), plus melakukan PSN terus digalakkan.

Selain itu, dilaksanakan juga pemberian bubuk abate kepada semua masyarakat untuk ditaruh pada wadah penampungan air guna mencegah adanya jentik nyamuk.

Dinkes juga tetap aktif melakukan berbagai upaya antisipasi melalui sosialisasi dan penyuluhan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan menggunakan mobil keliling.

“Peran serta kepala lingkungan untuk menggerakkan warganya melakukan upaya pembersihan dan penerapan PHBS sangat penting,” katanya. (Ant)