Seorang Guru dan Siswa SD di Lotim Positif Covid-19

150
Tampak depan SDN 1 Tanjung yang terdapat guru dan siswa positif Covid-19, di Labuhan Haji, Sabtu (13/12/2020). (Inside Lombok/M.Deni Zarwandi).

Lombok Timur (Inside Lombok) – Seorang guru dan siswa di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Tanjung, Kecamatan Labuhan Haji, Lotim terpapar Covid-19. Saat ini, sekolah ditutup selama 14 hari ke depan.

Wakil Juru Bicara Satgas Covid-19, Budiman Satriawan membenarkan informasi tersebut, bahwasanya seorang guru berinisial SA diketahui terpapar Covid-19 ketika suaminya membawanya memeriksakan kesehatannya ke klinik swasta. Dikarenakan SA memiliki gejala sesak napas karena gangguan paru-paru sehingga diidentifikasi mengarah terpapar Covid-19.

“Karena ada gejala Covid-19, maka langsung disarankan untuk dilakukan rapid test,” ujar Budiman saat ditemui Inside Lombok di Posko Satgas Covid-19 Lotim, Sabtu (13/12) siang.

Mengetahui adanya gejala, kemudian ASA disarankan untuk dilakukan rawat inap, lantaran ia memiliki gejala dan juga penyakit penyerta. Namun rumah sakit swasta memintanya melakukan rapid test di puskesmas. SA dan suami kemudian konsultasikan masalah kesehatannya ke dokter puskesmas setempat dan ia mengakui adanya gangguan penciuman.

“Pihak puskesmas langsung memintanya untuk dilakukan rapid test. Hasilnya, SA dinyatakan reaktif dan diminta melakukan tes usap di RSUD,” jelasnya.

SA kemudian melakukan tes usap di RSUD pada Kamis (03/12) dan hasilnya keluar pada Sabtu (05/12) dengan dinyatakan positif Covid-19. Tim Satgas Covid-19 kemudian melakukan penelusuran kontak terhadap enam anggota keluarga, 17 orang guru rekan kerja SA, dan 28 siswa.

“Dari sekian banyak hasil penelusuran kontak kemudian dilakukan rapid tes, empat orang siswa reaktif, dan satu siswa kelas V positif,” tuturnya.

Pihak Satgas Covid-19 Lotim langsung melakukan penyemprotan disinfektan di sekolah dan menutup pembelajaran tatap muka selama 14 hari ke depan. Berdasarkan temuan beberapa siswa dan seorang guru yang positif. Pihak satgas melakukan koordinasi dengan pihak Disdikbud untuk lebih memperketat prokes.

“Pihak sekolah harus lebih memaksimalkan prokes di sekolah,” katanya.