Mataram (Inside Lombok) – Batik Sasambo karya siswa SMKN 5 Mataram berhasil menembus pasar internasional dengan tampil dalam dua ajang di Jerman pada akhir April hingga awal Mei 2026. Produk wastra tersebut dipamerkan di Hamburg dan Braunschweig, menarik perhatian ratusan pengunjung.
Kepala SMKN 5 Mataram, H. Istiqlal, mengatakan partisipasi tersebut merupakan hasil pemanfaatan jejaring global yang dibangun bersama mitra internasional, termasuk pihak kedutaan.
“Mereka di sana sangat menghargai narasi. Yang mengejutkan mereka adalah fakta bahwa ini karya siswa SMK. Mereka melihat siswa kita sebagai ‘artisan muda’ yang mengembangkan heritage. Membeli karya mereka sekarang dianggap seperti memiliki investasi masterpiece di masa depan,” ujarnya, Selasa (5/5).
Penampilan perdana dilakukan dalam ajang Lange Nacht der Konsulate pada 30 April 2026 di KJRI Hamburg, dengan tema Vibrant Spirit of Indonesia’s Eastern Archipelago. Sekitar 900 pengunjung hadir dan tertarik pada motif yang mengangkat kehidupan lokal NTB, seperti Sate Rembiga, Masjid Bayan, dan kangkung.
“Motif yang dipamerkan bukan pola biasa, tapi visualisasi kehidupan lokal di NTB, seperti Sate Rembiga, Masjid Bayan, Kangkung. Kombinasi Sasambo dengan Tenun Pringgasela Lombok Timur jadi primadona dan laku dibeli oleh grup musik dan pengisi acara pameran,” terangnya.
Setelah kegiatan di Jerman, SMKN 5 Mataram berencana memperluas promosi ke negara lain. Sekolah tersebut tengah menyiapkan pengiriman sampel produk ke Turki serta agenda presentasi di Malaysia pada akhir Mei.
“Sampai dengan sekarang produk kreatif SMKN 5 Mataram sudah menjangkau pasar di tiga negara besar. Seperti Jepang, Jerman, dan Turki. Nanti kita akan merambah Belanda dan memperluas promosi produk lain seperti keramik,” imbuhnya.
Meski menghadapi persaingan di dalam negeri, pihak sekolah menegaskan tetap fokus pada kualitas dan proses pendidikan. “Kami tetap bertahan pada kualitas. Kami punya janji jika luntur, kembalikan, kami ganti dua kali lipat! Di luar mungkin prosesnya bisa dipersingkat untuk hemat biaya, tapi di sini siswa harus melalui tahapan proses yang benar. Kami mendidik mereka menjadi artisan, bukan sekadar buruh,” tegasnya.
Program ini juga dinilai mendukung promosi daerah melalui sektor pariwisata dan pendidikan. “Narasi itulah yang mahal. Orang ingin tahu di mana produk ini dibuat, dan akhirnya mereka datang ke Lombok. Ini kontribusi nyata kami untuk daerah,” pungkasnya.

